CHILDFREE DARI BERAGAM PERSPEKTIF

Bincang childfree

CHILDFREE DARI BERAGAM PERSPEKTIF

Memahami Perkara Childfree

Pada tanggal 04 September 2021, Santri Gus Dur (SGD) Yogyakarta bersama Srikandi Lintas Iman (Srili) mengadakan kegiatan KBGJ (Kongkow Bareng GUSDURian Jogja) via zoom meeting dengan tema “Mengenal Lebih Dekat Childfree; Antara Konsep dan Realita di Indonesia”. Acara ini menghadirkan tiga narasumber yang kompeten sesuai dengan basic isu, sekaligus hadir 50 peserta.

Tema tentang childfree memang sedang ramai dan menjadi sorotan masyarakat Indonesia. Sebagian orang sepakat terhadap keputusan untuk tidak memiliki anak setelah menikah, tetapi sebagian lagi menolak konsep childfree sebab bagi mereka, kodrat perempuan dan juga pernikahan adalah mengandung dan melahirkan anak. Secara umum, di Indonesia yang masih kental dengan budaya patriarki mempercayai bahwa setelah menikah, manusia akan bereproduksi dan melahirkan keturunan baru.

virtual diskusi dok.pri

Lovie Gunansyah dari Srikandi Lintas Iman yang menjadi narasumber pertama menjelaskan bahwa dalam berumah tangga, diskusi untuk mencari kesepakatan sangatlah penting. Sebagai ibu yang memiliki anak perempuan berusia 15 tahun, Lovie sadar betul bahwa keputusannya memiliki anak merupakan tanggung jawab besar dalam hidupnya sebagai orang tua. Karena itu berarti bahwa dia harus merawat, membesarkan dan memberikan hak perlindungan untuk anaknya. Baginya, menjadi seorang ibu adalah pilihan, tidak mudah, tetapi tidak ada yang mustahil.

Dalam pemaparan materinya, Lovie Gunansyah bercerita bahwa secara pribadi dia belum siap mendengar seandainya sang anak memilih untuk childfree. Sebab, dia masih bercita-cita untuk menimang cucu di usia senjanya. Lovie juga berpesan bahwa anak yang hadir kelak bisa merawat dan menjadi teman saat usianya sudah mulai menua nantinya. Keputusannya memiliki seorang anak juga membutuhkan banyak persiapan, baik secara mental, fisik maupun finansial.

Pilar-pilar Rumah Tangga

Sedangkan Sarjoko, pegiat sosial media dari Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian menjelaskan bahwa misi pernikahan dalam agama Islam adalah kemaslahatan bagi individu, pasangan suami istri, keluarga, masyarakat, negara juga dunia. Dia juga menjelaskan tentang lima pilar pernikahan yang menjadi unsur penting dalam berumah tangga, yaitu mitsaqon ghalidlan, meyakini bahwa pernikahan adalah janji yang kokoh dan harus ditepati serta dijaga dengan baik. Hal ini tentu ada kaitannya dengan menikah sebagai bentuk komitmen pasangan suami istri kepada Tuhan, sehingga setiap keputusan di dalam pernikahan harus bisa dipertanggungjawabkan pada Tuhan. Termasuk ingin memiliki anak atau tidak.

Kedua yakni zawaaj, keyakinan yang meneguhkan bahwa suami dan istri dalam pernikahan itu berpasangan sehingga penting untuk saling melengkapi, menghargai dan bisa bekerjasama demi kemaslahatan ummat. Sedangkan yang ketiga adalah mu’asyarah bil ma’ruf dimana suami dan istri saling memperlakukan pasangannya secara bermartabat. Keempat, melaksanakan musyawarah mufakat antara suami dan istri sehingga dalam mengambil keputusan secara bersama-sama, tidak terpaku pada salah satu pihak saja. Termasuk dalam memutuskan akan memiliki anak atau tidak.

Yang terakhir, taradlin, yaitu antara pasangan suami dan istri saling menjaga kerelaan pasangan dari setiap tindakan. Tentunya tindakan yang mengarah pada kebaikan, termasuk jika salah satu ingin memiliki anak atau tidak. Kelima pilar inilah sangat penting untuk keberlangsungan rumah tangga.

Sarjoko juga menegaskan bahwa memiliki anak merupakan salah satu cara mewujudkan kemaslahatan bagi sebagian orang. Tetapi bisa jadi Juga tidak memiliki anak juga adalah cara yang maslahah. Jadi, keputusan childfree atau tidak adalah keputusan personal yang alasannya bisa beranekaragam.

Tantangan Sekaligus Pandangan Masa Depan

Berbeda dengan Shinta Maharani yang secara gamblang dan terang-terangan berbagi pengalamannya menjadi pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak atau childfree. Sebagai seorang jurnalistik, Shinta bercerita bahwa pekerjaannya cukup menyita banyak waktu, bahkan beberapa kali dia melakukan perjalanan ke luar negeri untuk liputan atau menyelesaikan beasiswa. Keterbatasan waktu yang untuk merawat buah hati ini menjadi salah satu alasan untuk tidak memiliki anak.

Beberapa alasan lain yang membuat Shinta Maharani memilih menjadi pasangan childfree. Pertama, karena keputusan childfree membuat dia dan suami merasa bahagia. Baginya perempuan memiliki otoritas atas tubuhnya sendiri. Perempuan bisa dan berhak merdeka dengan keputusannya masing-masing. Termasuk dalam hal reproduksi.

Kedua, dia merasa tidak mampu menjadi ibu yang baik bagi anaknya kelak. Tanggung jawab menjadi ibu itu luar biasa. Sebagai orang tua, dia merasa tidak bisa memberikan kesejahteraan dan kualitas hidup bagi anak-anak yang akan dia lahirkan ke dunia. Mempertimbangkan situasi dan kondisi lingkungan, belum lagi gerakan konservatisme yang ada dimana saja. Lingkungan inilah yang menjadikan dia khawatir jika kelak anaknya tidak bisa menjadi sosok manusia merdeka dan bebas. Shinta mempertimbangkan jika kelak anaknya lahir sebagai kelompok minoritas atau LGBT di tengah situasi masyarakat Indonesia yang tidak ramah dengan LGBT, atau ketika anaknya ternyata terlahir sebagai seorang anostik atau atheis kemudian mendapat stigma serangan dari orang-orang di Indonesia.

Ketiga, alasan Shinta memilih childfree sebab adanya over populasi. Banyak anak-anak terlantar karena terbuang oleh keluarganya atau menjadi human trafficking dan lain sebagainya. Shinta berprinsip, menjadi ibu-ayah tidak harus menjadi orang tua biologis, tetapi juga bisa menjadi orang tua bagi anak-anak yang membutuhkan sosok orang tua dalam hidupnya.

Apakah Menjadi Childfree Di indonesia Mudah?

Shinta menjelaskan bahwa tidak mudah menjadi pasangan childfree. Banyak anggapan bahwa dia sebagai perempuan yang egois karena tidak memiliki anak. Tapi keputusannya bersama suami telah bulat. Dia sering tidak ambil pusing terhadap omongan orang. Baginya, egois itu jika dirinya telah merugikan orang lain. Sementara dia yakin jika keputusan childfree yang dia dan suami ambil tidak merugikan siapapun.

Seorang penulis bernama Margaret Atwood dari Canada menulis buku berjudul The Handmaid’s Tale terbit tahun 1960. Buku ini bercerita tentang kisah sang Handmaid. Menjelaskan tentang kekacauan di masa depan. Gambaran perempuan dalam buku itu tampak sebagai sosok yang menjalani perbudakan, menjadi pelayan. Salah satunya juga mengalami perbudakan reproduksi untuk mengandung anak orang-orang elite. Hingga akhirnya di tahun 1980, tercetuslah demontrasi hak reproduksi.

Buku ini telah memberi gambaran bagi Shinta untuk semakin mantap mengambil keputusan. Dia banyak belajar pengetahuan dari novel, film, petualangan saat traveling dan berjumpa dengan banyak orang.

Menghormati Pilihan Orang Lain

Apapun keputusannya, ingin childfree atau tidak, merupakan hak setiap orang. Setiap manusia memiliki kemerdekaan untuk memutuskannya. Tidak ada yang boleh mengintimidasi, memaksa apalagi menekan seseorang untuk memiliki anak atau tidak. Tugas kita selama masih berjumpa dengan manusia, siapapun dia, maka kita wajib untuk memanusiakan manusia dengan merawat nilai-nilai toleransi dan perdamaian.

Muallifah selaku moderator menutup acara KBGJ dengan petikan kalimat dari Betty Friedan; tidak ada jawaban untuk pertanyaan siapa aku kecuali suara di dalam dirinya sendiri. Sekalipun sudah menikah, baik perempuan maupun laki-laki tetap memiliki otoritas atas dirinya. Tubuhnya tetap miliknya seutuhnya.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *