Pemikiran Cak Nur

Dalam sejarah perkembangan Islam, para cendekiawan mencoba untuk mengaplikasikan agama sesuai dengan kebutuhan zaman, tidak heran ketikan para pembaharu Islam ingin mengubah teologi yang humanis serta sesuai dengan kehidupan masyarakat. Salah satu tokoh yang gerbong pembaharu pemikiran Islam di Indonesia adalah Nurcholish Madjid.

Nurcholish Madjid dengan panggilan akrab Cak Nur, lahir di Jombang, 17 Maret 1939. la dibesarkan di tengah tengah keluarga yang bernafaskan pesantren dan hidup dalam sistem religio feodalisme. Kehidupan pola pesantren yang kuat dalam diri Cak Nur berasal dari ayahnya yang seorang guru pesantren di Tebu Ireng dan juga orang kepercayaan Kyai Hasyim Asyhari, dan ibu seorang putri dari Kyai Abdullah Sajad, pengusaha Industri tebu dan juga salah seorang komisaris Syarekat Dagang Islam.

Sebelum masuk lebih dalam mengenai pemikiran Cak Nur, kita mencoba untuk membangun alur pemikirannya. Pertama adalah bagaimana bangunan epistimologis teologi Islam yang diawali dengan tafsiran al-Islam.

Islam tidak hanya dipahami sebagai agama formal (organized religion), melainkan Islam selalu dilukiskan sebagai jalan. Sebagaimana dipahami dari berbagai istilah yang digunakan kitab suci, seperti sirâth, sabîl, syarî’ah, tharîqah, minhaj, dan mansakh. Kesemuanya itu mengandung makna “jalan”, dan merupakan metafor-metafor yang menunjukkan bahwa Islam adalah jalan menuju perkenan Allah.

Menurut Cak Nur, agamawan harus menjadi palang pintu terakhir umat dan harus mampu menjaga orisinalitas agama sekaligus mengaktualisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat secara lebih modern agar mudah di cerna, tidak terkesan basi dan membuatnya terus menarik agar tidak ditinggalkan pemeluknya hanya karena intervensi doktrin yang dimuat agama.

Seorang muslim yang taat, yang saleh, harus juga menjadi seorang humanis. Seorang muslim harus mempunyai keimanan yang sangat kuat, tapi di saat bersamaan dapat berpikir secara terbuka.

Ciri khas pemikiran Cak Nur adalah tentang modernitas. Bagi Cak Nur, makna modernisasi berarti merombak pola berfikir dan tata kerja yang tidak akliah dan menggantinya dengan yang akliah, karena Tuhan memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya. Jadi, modernisasi adalah suatu keharusan sejarah, malah kewajiban mutlak.

Modernisasi merupakan perintah dan ajaran Tuhan Yang Maha Esa.Ini berarti makna modernisasi telah bermuatan teologis, bukan sekedar kenyataan historis.

Dalam hal ini, teologi modern yang dibawakan oleh Cak Nur adalah  teologi inklusif yang berpijak pada humanitas dan universalitas Islam. Hal ini dimaksudkan sebagai acuan umat menghadapi realitas kemajemukan dan pluralitas yang tidak bisa dihindari.

Teologi inklusif memberikan pengertian bahwa Islam adalah agama yang terbuka dan tidak eksklusif apalagi absolut. Inklusivisme merupakan paham yang menganggap bahwa kebenaran tidak hanya terdapat pada kelompok sendiri, melainkan juga ada pada kelompok lain, termasuk dalam komunitas agama.

Dalam inklusivisme diniscayakan adanya pemahaman tentang yang lain yang mana selalu ada dimensi kesamaan substansi nilai. Itu artinya, harus dipahami bahwa kebenaran dan keselamatan tidak lagi dimonopoli agama tertentu, tetapi sudah menjadi payung besar agama-agama.

Dalam Al-Quran, digambarkan oleh Cak Nur, ada penegasan bahwa agama para nabi terdahulu, semuanya adalah islâm. Artinya, inti semua ajaran agama itu adalah sikap pasrah kepada Tuhan. Inilah yang menyebabkan mengapa agama yang dibawa Nabi Muhammad Saw. disebut sebagai agama islâm, karena ia—begitu Cak Nur selalu menyebut—“secara sadar dan dengan penuh deliberasi mengajarkan sikap pasrah kepada Tuhan”.

Agama Islam secara par excellence tampil dalam rangkaian dengan agama-agama al-islâm yang lain. Walaupun dalam kenyataannya, agamaagama lain itu, tidak disebut dengan nama islâm, sejalan dengan istilah Cak Nur, lingkungan, bahasa, bahkan mode of thinking-nya.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa Cak Nur adalah salah seorang pioneer dalam mengenalkan dan mengembang kalam modren, agar dalam beragama –terutama Islam dapat diaplikasikan secara perkembangan zaman.

Konsep kalam yang dikembangkan telah memberi warna bagi perkembangan dan pembaharuan fikih di Indonesia, khususnya fikih yang bersinggungan dengan persoalan antara umat Islam dengan non-muslim.

INTOLERANSI AKAN LANGGENG DI INDONESIA?

Akhir-akhir ini kita dihadapkan dengan beberapa kasus yang membuat jengkel nurani kita sebagai bangsa Indonesia yang majemuk, bangsa yang diperuntukan bagi semua golongan, semua suku bangsa dan semua pemeluk agama yang beragam dari Sabang sampai Merauke.

Tiba-tiba kita mendengar adanya pembangunan gereja baru di Tanjung Balai Karimun, Kepri yang dihentikan padahal sudah memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan sudah berdiri sejak 1928. Begitu juga kasus perusakan Musala di Minahasa Utara dua pekan lalu (polisi sudah menetapkan tiga warga sebagai tersangka).

Selain dua kasus yang menonjol beberapa waktu belakangan, terdapat kasus lain yang semakin marak terjadi, misalnya pelarangan ibadah Hindu di Yogyakarta, pembubaran ibadah gereja di Medan Sumatera Utara, dan aksi intoleransi lainnya terkait kebebasan beragama. WAHID Institute bahkan mencatat jumlah pelanggaran kebebasan beragama di Indonesia terus meningkat, dari 265 di tahun 2017 menjadi 276 di tahun 2018.

Pelanggaran itu mulai dari pembatasan, pembubaran, penyegelan, hingga pelarangan pendirian rumah ibadah. Banyak pihak menilai, seperti PBNU, bahwa akar masalah pelarangan pendirian tempat ibadah itu ada di SKB Dua Menteri (Menag dan Mendagri), yang mana pendirian rumah ibadah harus disetujui 60 warga sekitar dan memiliki 90 umat yang menandatangani pendirian rumah ibadah. Aturan tersebut perlu dikaji ulang guna menyelesaikan kasus pelarangan pendirian rumah ibadah di berbagai tempat di Indonesia.

Maka dari sekian banyak kasus tersebut, benarkah Indonesia saat ini sedang berperang melawan intoleransi atau hanya sedang berupaya melanggengkan intoleransi? Memang benar ada fakta bahwa pemerintah sedang berupaya menindak para pelaku yang melakukan tindakan intoleran. Namun apakah itu akan cukup untuk menghilangkan intoleransi di Indonesia? Apakah memang akar masalah dari intoleransi ini ada pada masyarakat?

Banyak orang yang dihukum karena melakukan perusakan tempat ibadah hingga dianggap menistakan agama. Tapi mengapa hal tersebut tidak membuat orang belajar untuk lebih bersikap toleran terhadap orang dari golongan yang berbeda?
Banyak aturan yang dibuat untuk mengatur bagaimana rakyat beribadah, seperti aturan pendirian tempat ibadah, pengaturan toa masjid, hingga pasal penistaan agama. Apakah mengatur masyarakat adalah solusinya? Apakah bisa pemerintah mengatur masyarakat?

Akar Masalah Intoleransi

Masyarakat merupakan cerminan dari pemimpinnya. Pemimpin tertinggi hingga pemimpin tingkat RT/RW, dan kelompok masyarakat. Ketika pemerintah mencoba mengatur masyarakatnya, itu seperti pemerintah hanya mencoba mengganti cerminnya saja, namun hasilnya tetap sama (pantulan dari apa yang ada dihadapan cermin)

Para pemimpin itu merupakan elit-elit yang ada di sekitar masyarakat. Elit itu tidak hanya tokoh politik, pemimpin, namun juga dari tokoh agama dan masyarakat atau ormas tertentu. Ada beberapa oknum dari para elit ini yang biasanya memiliki kepentingan-kepentingan dengan memengaruhi masyarakat lewat penyebaran virus intoleransi. Entah untuk meningkatkan elektabilitas dalam pemilu atau untuk mendiskreditkan pemeluk agama lain.

Publik melihat, beberapa kepala daerah yang seharusnya menjadi simbol pemimpin dan juga teladan di daerahnya seakan tidak mampu berbuat tegas untuk menjalankan amanat konstitusi, yaitu menjamin hak setiap warga negara untuk beribadah sesuai dengan kayakinan agamanya masing-masing. Kepala daerah cenderung “takut” tidak dipilih lagi oleh mayoritas warganya yang kini mulai terjangkit virus intoleransi, menolak pembangunan rumah ibadah, hingga pembubaran masyarakat yang tengah beribadah.

Bahkan dari elit tersebut merupakan pemimpin dan tokoh agama justru turut menyebarkan virus intoleransi dengan membuat kebijakan dan fatwa untuk mengharamkan dan melarang suatu tradisi dari golongan tertentu. Melihat kasus tersebut, penulis jadi ragu apakah benar virus intoleransi di negeri ini akan hilang.

Menghilangkan permasalahan intoleransi harus dimulai dari membersihkan para elit di negeri ini dari virus tersebut. Pemimpin tertinggi dalam hal ini semestinya mampu memfilter siapa aja yang akan menduduki posisi strategis dan menjadi panutan bagi masyarakat.

Kecepatan dan ketegasan pemerintah menjadi sangat penting. Apalagi dalam UU No.23 Tahun 2014 tentang Pemerintah daerah, Gubernur adalah kepanjangan tangan dari pemerintah pusat. Jadi, tidak ada alasan, Pemda bertentangan dengan pemerintah pusat dalam hal penyelesaian masalah intoleransi.

Begitupun para tokoh agama sudah sewajarnya diberi sertifikasi melalui Kementerian Agama untuk mencegah masalah tersebut. Semoga ke depannya dengan membersihkan para elit, virus intoleransi juga menjadi berkurang di negeri ini.

Penulis: Asep Irpan Nugraha

Isu yang merebak sehubungan dengan intoleransi di Indonesia seakan pecah, menyusul tindakan radikalisme terorisme yang baru-baru ini terjadi di Mapolresta Surakarta.

terbakarnya masjid di Tolikara Papua, penyerangan terhadap jamaah Katolik di Sleman Yogyakarta, penyerangan terhadap jamaah Ahmadiyah di Tasikmalaya , penyerangan komunitas Syiah di Sampang, Madura, kejadian Tanjung Balai, menyusul kejadian intoleransi di Gondang Klaten belum lama ini tentu memicu keprihatinan banyak pihak. Toleransi yang selama ini dibangun dan dikampanyekan seakan runtuh begitu saja. Kekerasan yang mengatasnamakan agama dan tindakan Intoleransi seolah menghancurkan nilai-nilai agama dan kearifan lokal yang selama ini di agungkan dan dipegang teguh.

Pertanyaan berikutnya adalah, masih adakah orang-orang yang memegang nilai-nilai luhur agama dan kearifan lokal di negeri ini ?

Belum lama ini, penulis menghadiri sebuah hajatan pernikahan seorang saudara di daerah Cileungsi Bogor. Teman penulis ini seorang Katholik. Rangkaian acara dari hari pertama sampai hari terakhir diwarnai nuansa jawa dan religius Katholik.

Acara ini terselenggara dengan lancar dan sukses karena warga masyarakat didaerah itu ikut membantu pelaksanaan hajatan.
Ada satu hal yang membuat saya takjub, masyarakat dari berbagai kalangan dan Agama terutama minoritas(Muslim) di daerah itu bahu membahu tanpa sekat dalam tali persaudaraan yang saya sendiri sulit untuk menggambarkannya.

Bahkan dalam acara doa secara  katholik di rumah dan di Gereja, saudara-saudara Muslim mempersilahkan pemilik rumah untuk fokus saja berdoa, dan merekalah yang akan membereskan urusan yang lain. Luar biasa indahnya persaudaraan dan suasana toleransi yang saya saksikan.
Bahkan dari komentar beberapa warga, mereka mengatakan bahwa “Tidak hanya hajatan, kami pun selalu bersama-sama saat Idul Fitri dan Natal”.

Peristiwa diatas memunculkan harapan dan meneguhkan kita semua bahwa optimisme itu masih ada. Optimisme untuk mengembalikan kembali keutuhan negara ini dari rongrongan intoleransi, radikalisme dan terorisme.

pemahaman kita tentang toleransi seringkali dangkal dan hanya berhenti pada pemahaman sesama agama saja. Lebih dari itu sebenarnya toleransi memiliki makna luas. Menghargai sesama warga negara tanpa melihat dan memandang suku, agama, ras, dan keyakinan.

“Masih jamankah Pemuda tawuran dan bakar-bakaran? Mending Berkesenian,” kurang lebih begitu ungkap salah satu Pemuda Wiselink saat ditemui pada Gebyar Muda Mudi, Jatimulyo Baru, Kricak, Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Banyak hal menarik yang bisa kita teladani dari kata-kata pemuda itu. Ia bersama teman-temannya tinggal dan besar di sebuah perumahan kota. Merasa sangat was-was dan merasa perlu untuk mengasah bakat dan kopetensi diri sebelum keluar kampung. Ia dan teman-temannya sadar bahwa hidup sesungguhnya ada di luar kampung mereka hal ini diungkap Lenta salah satu panitia acara.

Ada hal yang lebih dalam dari sebuah perkembangan jaman. Sejarah kampung membuat para pemuda Jatimulyo baru selalu mengadakan kegiatan positif lebih-lebih dalam bentuk berkesenian seperti ini. Menurut Jaka, salah satu Pemuda Wiselink berbagi sejarah kampung mereka melalui kolom komentar di Pojok.dutadamai.id. Menurtnya, Wiselink merupakan akronim dari Winongo Setengah Keliling, nama ini diambil dari  kondisi geografis Perumahan Jatimulyo Baru yang terletak di setengah putaran Sungai Winongo. Wiselink juga berarti Wis Wling atau sudah ingat. Akronim ke dua ini memiliki sejarah bahwa Wiselink digunakan untuk mengingat-ingat kejadian terbenamnya kampung mereka pada tahun 1984.  Saat itu ketika warga telah merasakan aman dan nyaman tinggal bersama secara tiba-tiba banjir datang menerjang dan memporak porandakan lingkungan Jatimulyo Baru.

Aliran Sungai Winongo merupakan salah satu sungai besar yang mengalir di tengah Kota Yogyakarta selain Code, dan Gajah Wong. Arusnya memang besar pun lebar. Jika curah hujan tinggi warga pinggiran sungai was-was sepanjang hari. Siap-siap air masuk dan tidak bisa tidur di dalam rumah mereka. Siapa gerangan yang membantu mereka jika hal seperti itu terjadi? Sampai saat ini beberapa warga yang masih bermukim di bantaran Sungai Winongo selalu siaga bersama warga kampung sebelah. Mereka bahu-membahu dan selalu memberikan info terkini jika curah hujan tinggi melalui media sosial. Kebiasaan yang berulang itu ternyata ditanggapi positif dan membuat Warga Wiselink dan warga bantaran Sungai Winongo lainnya lebih memahami kondisi mereka bersama. “Kepedulian dan kebersamaan warga antar kampung sebelah luar biasa dan menyadarkan kami arti pentingnya silaturahmi. Jika warga tidak selalu ingat tentang peran serta tetangga kampung niscaya kita akan merasa eksklusif dan pongah,” tulis Jaka.

Masihkah ragu kita sebagai Pemuda yang lahir dan besar di Indonesia untuk tidak menjalin silaturahmi dengan tetangga? Sudah menjadi rahasia umum bahwa Yogyakarta terkenal dengan prularisme, multycultur, multy etnic, dan Yogyakarta bisa dikatakan sebagai miniatur Indonesia. Pun Warga Wiselink, segala bentuk perbedaan ada di sana. Namun dengan kondisi geografis mereka yang rawan banjir justru membuat mereka untuk tetap rukun dan saling peduli.

Yogyakarta sebagai gudangnya seniman dan cendekia tak mengherankan jika warganya selalu berhatinyaman. Susah, senang, mereka tetap berkesenian.  Didi Nini Thowok, Sang Maestro Tari sekaligus Warga Wiselink berkeyakinan bahwa berkesenian itu wajib dilakukan. “Seni adalah identitas Bangsa Indonesia yang harus dipelihara dan kita tidak boleh lupa dengan sejarah. Maka dengan adanya kegiatan seperti ini harapannya bisa dilakukan secara reguler,” ungkapnya saat ditemui di belakang panggung oleh kontributor Tim Pojok.

Menurutnya, berkesenian tidak melulu harus jadi pelaku. Sebagai penonto/penikmat seni juga bisa dibilang berkesenian. Terpenting, generasi muda wajib tahu tentang seni dan budaya yang tumbuh di daerah mereka tinggal. Mencintai dan mengenal adalah wujud kecintaan terhadap bangsa. Bagi mereka yang telah dewasa, menyaksikan pertunjukan kesenian secara tidak langsung merasa diingatkan. Betapa elegannya berkesenian, Pemuda. Ada kerja sama untuk saling bekerja sama untuk saling mengingatkan dan peduli dengan cara suka cita. Masih perlukan kita Pemuda berkelahi, menonjolkan perbedaan, berselisih paham, dan berlaku anarkis? Tidak indahkah Indonesia kita jika berkesenian menjadi alternatif komunikasi efektif untuk saling mengingatkan?

Bagi para pejuang pendahulu kita yang memperjuangkan kemerdekaan dengan segenap jiwa dan raganya, Pancasila adalah segalanya, Pancasila adalah buah pemikiran cerdas luar biasa dari para Tokoh bangsa. Pancasila tidak tercipta dalam waktu semalam, tapi hasil dari sebuah keyakinan dan perenungan yang sangat dalam. Disana dititipkan sebuah keyakinan dan kehidupan spiritual bangsa Indonesia untuk di turunkan dari generasi ke generasi untuk menuju Indonesia Jaya.

Saat ini Pancasila masih tegak berdiri. Tapi semangat Pancasila ternyata sangat sulit diwariskan kepada generasi muda saat ini. Tidak banyak generasi muda yang peduli dengan jiwa dan semangat Pancasila. Mengerti dan memahami setiap sila saja menjadi hal yang sangat sulit bagi mereka.

UGM Yogyakarta pernah menyelenggarakan Kongres Pancasila beberapa saat yang lalu.. Peserta dari generasi muda hanya sekitar 20 persen saja, dan sisanya generasi di atasnya. Hal inilah yang membuat keprihatinan kita semua.

Dari beberapa sumber bahkan mengatakan bahwa ada di antara generasi muda yang menganggap Pancasila hanya cocok untuk orangtua dan tidak untuk orang muda.

Namun harapan dan optimisme akan Pancasila masih tetap ada. Bisa dilihat dari sejumlah anak muda peserta konggres yang walaupun berjumlah sedikit, tetapi semangat mereka patut diacungi jempol. Harapan kemajuan negara ini satu-satunya ada di tangan generasi muda yang memiliki semangat Pancasila.

Pancasila adalah dasar negara yang berarti merupakan fondasi Negara Indonesia. Pancasila seharusnya menjadi pedoman bagi seluruh rakyat Indonesia untuk menemukan solusi dari segala permasalahan. Semangat Pancasila ini menjadi tanggung jawab kita semua sebagai warga negara untuk mewariskannya dari generasi ke generasi.

Banyak gempuran saat ini yang benar-benar mengancam semangat Pancasila di negeri ini. Banyak yang mempertanyakan tentang Pancasila yang tidak sesuai dengan ajaran agama, tidak cocok dengan norma dan mempertanyakan ke”ampuh”an Pancasila sebagai satu solusi untuk berbagai permasalahan yang terjadi di Negeri ini.

Bahkan ada kelompok yang dengan gampang mengkafirkan Pancasila. Belum paham dengan filosofi Pancasila dan mengatakan bahwa Pancasila adalah haram. Wawasan pikir dan rasa kebangsaan kita harus luas untuk dapat memahami Pancasila.

Pemahaman tentang semangat para tokoh pendahulu yang ingin menjaga generasi Indonesia dari kebodohan emosional, spiritual dan intelektual. Hal inilah yang “terlewat” dari kelompok-kelompok radikal yang menafikan Pancasila sebagai dasar Negara dan filosofi kehidupan bangsa serta telah tertanam puluhan tahun lamanya.

Generasi muda adalah benteng utama Pancasila. Generasi muda adalah Pancasila. Dan seharusnya tak terpisahkan.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, yang terhormat oleh karena falsafah hidup yang terus dipegang teguh oleh bangsanya dan tertuang abadi dalam kelima sila Pancasila.

Dalam rangka mengemban amanat besar ini, maka BNPT bersama anak muda Indonesia yang tergabung dalam Duta Damai bertekad untuk mengawal Pancasila tetap Berjaya dan dihidupi oleh generasi muda.

Banyak kegiatan yang sudah dilakukan para duta damai yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini untuk menyuarakan pesan peradamaian. Pancasila akan terus di gemakan oleh kelompok anak muda ini untuk menuju peradaban Indonesia yang damai, penuh toleransi saling menghormati, jauh dari paham radikalisme dan terorisme.

Satu lagi peran anak muda Indonesia yang tetap peduli dan ikut berperan aktif atas warisan pendahulu bangsa. Hal ini boleh menjadi inspirasi bagi kita semua untuk tetap optimis bahwa suatu saat nanti Indonesia terlebih bangsanya akan menjadi bangsa yang besar dan terkemuka di dunia.

Seperti kita ketahui bahwa Peran generasi muda sangatlah besar dan dibutuhkan untuk keutuhan NKRI. Di tangan generasi muda inilah juga Masa depan Bangsa Indonesia ditentukan. Generasi muda tak terkecuali mulai dari pelajar sampai dengan eksekutif muda merupakan orang-orang andalan Bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bangsa, juga dalam mempertahankan kedaulatan dan keutuhan NKRI.

Menilik sejarah, peran orang-orang muda ini sangatlah penting mulai dari pra kemerdekaan sampai dengan pasca kemerdekaan. Di tangan pemuda inilah negara Indonesia dibangun. Dari masa lalu pula kita tahu pemuda adalah pilar dan motor penggerak bagi kemerdekaan dan kemajuan bangsa, sekaligus benteng terkuat dalam mencegah gempuran dan rongrongan dari pihak yang ingin menghancurkan dasar negara.

Hal inilah yang ditangkap oleh generasi muda yang tergabung dalam Duta Damai. Duta Damai yang dibentuk oleh BNPT ini memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan semangat nasionalise untuk tetap konsisten dalam keikut sertaan setiap generasi muda dalam menjaga keutuhan negeri ini.

Saat ini yang menjadi keprihatinan kita semua adalah isu tentang paham radikalisme dan terorisme. Kegiatan radikalisme dan terorisme sudah semakin nyata dalam memecah belah kita sebagai bangsa yang bersatu.

Terkait dengan perkembangan jaman dan teknologi yang semakin cepat dan nota bene dekat dengan generasi muda, dibutuhkan agen-agen perdamaian yang juga menguasai teknologi dan dunia maya untuk dapat berperan aktif mencegah penyebaran paham radikal dan terorisme yang dapat mengancam keutuhan Pancasila.

Saat ini kegiatan penyebaran isu dan propaganda radikalisme sudah menggunakan media Internet untuk menyasar semua lini pengguna dunia maya. Seperti yang pernah dikatakan oleh tito carnavian bahwa “Penggunaan internet oleh jaringan terorisme cukup intens penyebarannya, hal menjadikan agak sulit untuk dideteksi. Maka untuk melawannya dibutuhkan melalui kemampuan para duta damai yang melek teknologi ini sebagai penangkalnya”

Para pemuda Duta Damai ini dengan pasti dan mantab bergerak dalam menangkal setiap isu radikalisme dan terorisme serta menyebarkan pesan perdamain lewat dunia maya. Disinilah Duta damai ikut ambil peranan dalam menjaga keutuhan NKRI.

Mengapa Duta Damai yang nota bene berisi para generasi muda ? Pemuda masih memiliki energi yang besar, jiwa, semangat, dan ide-ide brilian untuk menjadikan Bumi Pertiwi menjadi tempat yang lebih baik lagi. Mereka inilah juga orang-orang yang pasti memiiki pemikiran-pemikiran yang visioner untuk kemajuan Indonesia.

Hal inilah yang dibutuhkan oleh negara untuk dapat mewariskan semangat perdamaian dan nasionalisme ke seluruh bangsa Indonesia terutama penggiat dunia maya agar tidak terpengaruh paham radikalisme dan terorisme.

Nasionalisme harusnya tertanam didalam diri setiap generasi muda untuk dapat menyikapi setiap perkembangan zaman dan ikut berperan aktif dalam rangka membangun Indonesia yang kuat, bersatu dan damai walaupun berbeda agama, suku dan kebudayaan. Menjunjung tinggi nilai nasionalisme dan persaudaraan sehingga  perpecahan dan perselisihan antar Agama, suku, Ras dan budaya dapat dihindari.

Begitu banyak Tokoh besar negeri ini yang menginspirasi kita semua. Teladan perjuangan mereka dalam mengawal keutuhan Indonesia, terutama mengawal Pancasila dan UUD ’45. Mulai dari Pangeran Diponegoro yang hanya kita dengar ceritanya dari Guru dan buku sejarah, sampai dengan tokoh nasional saat ini yang masih dapat kita lihat keseharian lewat media ikut andil dalam membentuk semangat Patriotisme dan Nasionalisme.

Hari Kemerdekaan tanggal 17 Agustus merupakan saat-saat emosional bagi bangsa Indonesia. Banyak tulisan bernada patriotisme merebak diseluruh penjuru nusantara. Perasaan saya pun membuncah saat melihat sekelompok anak muda yang dipercaya mengibarkan bendera pusaka merah putih.

Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), begitulah mereka ini disebut. Ada yang berbeda dibanding anak-anak muda yang lain. Mereka ini adalah anak-anak muda pilihan yang sudah melalui banyak tahap saringan dan latihan super ketat hingga akhirnya mereka akhirnya dilantik menjadi Paskibraka.

Yah, mereka ini adalah tokoh-tokoh anak muda masa kini yang boleh menjadi teladan bagi generasi muda Indonesia. Semangat yang mereka tampilkan tidak hanya formalitas yang hanya sedap dilihat, tetapi benar-benar terasa mulai saat mereka berlatih keras dan dilantik secara resmi oleh Presiden Joko Widodo.

Ketokohan menjadi salah satu hal yang mampu menumbuhkan dan mengokohkan rasa Nasionalisme dan patriotism bagi generasi muda. Sayangnya tidak banyak sekarang ini yang bisa dijadikan tokoh apalagi diidolakan anak muda. Para pemangku kepentingan lebih sibuk dengan urusan pribadi dan partai sehingga melupakan kepentingan negara.

Banyak yang mengidolakan bapak pendiri negara ini Ir. Soekarno, yang sekaligus pencetus mahakarya yang kita sebut PANCASILA. Dalam jatuh bangunnya beliau dalam mempertahankan kesatuan negara ini seringkali menjumpai saat-saat sulit dan prihatin, tetapi bertahan dengan keyakinannya.

Kebanggaan akan Pancasila seharusnya memang menjadi bagian dari kita semua warga negara Indonesia. Kebanggaan yang seharunya mampu menumbuhkan Nasionalisme yang menjadi benteng pertahanan dari radikalisme dan terorisme. Seolah mulai pudar dimakan perkembangan jaman dan arus teknologi.

Nasionalisme bangsa Indonesia saat ini sedang sangat dibutuhkan untuk mempertahankan Pancasila, yang kita semua tahu sedang berusaha dihapus bahkan dicabut dari akarnya oleh sekelompok minoritas yang radikal.

Kelompok Anak muda Paskibraka ini boleh dijadikan inspirasi dan semangat bahwa optimisme itu masih ada. Optimisme untuk menjadikan Indonesia lebih baik, Indonesia yang Gemah Ripah Loh Jinawi, Indonesia yang Damai.

Dewasa ini teroris menggunakan propaganda melalui dunia maya dan tidak lagi hanya melalui televisi. Kita dapat membandingkan propaganda Al Qaeda dengan ISIS yang sangat berbeda. Perekrutan anggota ISIS dari berbagai belahan dunia dilakukan melalui dunia maya. Melihat pengguna aktif di dunia maya adalah generasi muda, maka generasi muda Indonesia saat ini memiliki tugas yang lumayan cukup berat untuk mencegah terorisme. Namun sebenarnya tugas tersebut dapat dilakukan sedikit demi sedikit melalui tindakan sehari -hari. 

Berikut ini adalah berbagai cara yang dapat dilakukan oleh generasi muda dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah terorisme :

  1. Memberikan informasi mengenai ilmu pengetahuan yang benar kepada anggota keluarga yang kemudian dilanjutkan ke lingkungan sekitar. Pemahaman informasi yang benar tentang ilmu pengetahuan ini akan membuka wawasan kita dan tidak menjadikan kita berpikiran sempit terutama tentang pengetahuan ilmu agama.
  2. Meminimalisir kesenjangan sosial di lingkungan tempat tinggal dengan cara saling membantu warga yang sedang membutuhkan bantuan kita. Walaupun hal ini terlihat sepele tetapi dampak yang ditimbulkan sangat luar biasa. Warga akan merasa kompak dan saling menjaga sehingga tidak merasa ada kesenjangan sosial yang lebar.
  3. Menjaga persatuan dan kesatuan melalui rapat-rapat rutin RT dengan menghargai pendapat orang lain dan tidak menyela ketika orang lain mengungkapkan pendapatnya terhadap suatu masalah yang sedang terjadi di dalam RT tersebut.
  4. Memiliki peran aktif dalam mencegah radikalisme dan terorisme di masyarakat. Peran aktif ini bisa diwujudkan dengan berbaur ke dalam masayarakat sehingga apabila ada generasi penyendiri dapat diedukasi agar tidak dimasuki oleh paham-paham radikal. Selain itu, apabila ada ajaran yang dianggap menyimpang di masyarakat sebaiknya segera di musyawarahkan dengan tokoh agama agar tidak semakin meracuni masyarakat.
  5. Informasi yang didapatkan di dunia maya sebaiknya disaring sebelum berpendapat di  masyarakat. Jadi informasi yang beredar di dunia maya tidak langsung serta merta dicerna dan kemudian disampaikan ke masayarakat tetapi ada baiknya di saring lebih dahulu dengan mencocokkan data dan fakta yang terjadi. Tidak asal klik “like” dan “share”.
  6. Memberikan sosialiasi kepada keluarga yang kemudian dilanjutkan ke lingkungan tempat tinggal mengenai bahaya radikalisme dan terorisme. Pertama bisa kita masuk ke topik ini ketika berbincang santai dengan keluarga, kemudian saling bertukar pendapat dengan anggota keluarga mengenai terorisme. Dengan melakukan tukar pendapat kita akan mengetahui pemahaman terorisme di benak setiap anggota keluarga kemudian apabila ada yang kurang pas, nah disitu kita bisa memberikan sosialisasi mengenai bahaya terorisme dan radikalisme.

Sebelum kita terjun lebih jauh ke dalam masyarakat alangkah baiknya apabila berbagai cara menanggulangi terorisme ini kita sebarkan di dalam keluarga kita terlebih dahulu. Sebagai generasi muda kita harus cerdas dalam melawan terorisme dan pandai memanfaatkan dunia maya untuk melawan propaganda yang dilakukan oleh teroris.

penulis : Niken Nawangsari

Wawasan kebangsaan adalah cara pandang bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan nasionalnya, salah satu tujuan nasional adalah mempertahankan negara. Sebagai warga negara Indonesia sebenarnya kita dituntut untuk berpikir, betindak dan bersikap secara utuh untuk kepentingan  bangsa dan negara. Implementasi wawasan kebnangsaan  pada bidang pertahanan dan keamanan negara antara lain seperti menumbuhkan cinta tanah air dengan perwujudan bela negara yang merupakan modal utama bangsa untuk menghadapi ancaman. Berbagai ancama terhadap ketahanan negara sudah banyak terjadi di Indonesia terutama berkaitan dengan terorisme.

Aksi terorisme yang saat ini semakin canggih dengan memanfaatkan semua yang ada di dunia maya merupakan tantangan bagi generasi muda untuk mempertahankan negara. Melalui pemahaman yang benar mengenai wawasan kebangsaan diharapkan generasi  muda dapat menganggulangi aksi terorisme salah satunya dengan menjadi duta damai. Perkembangan media sosial dengan pengguna sebagian besar adalah kalangan generasi muda bertanggung jawab dalam pencegahan terorisme. Duta damai sebagai salah satunya dapat memerangi terorisme melalui konten-konten positif yang bisa disebarkan di dunia maya.

Duta damai dapat memanfaatkan komunitas di kalangan pemuda untuk memberikan cara pandang yang benar mengenai wawasan nusantara. Menebar keindahan keberagaman, saling toleransi antar pemeluk agama dan menghindari tindakan rasis adalah berbagai hal yang dapat dilakukan duta damai dan disebarkan kepada anggota komunitas sekitar untuk memberikan sosialisasi dan pencegahan terhadap terorisme.  Selain memanfaatkan komunitas sekitar, mengajak pemuda untuk lebih aktif di dalam masyarakat juga bisa dilakukan untuk menghindari pemuda “galau”. Pemuda yang galau ini akan lebih mudah dikaderisasi atau dimasuki paham-paham radikal oleh teroris. Berbagai serangan teroris pada tahun 2016 ini kebanyakan dilakukan oleh pemuda, nah inilah contoh pemuda “galau” yang akhirnya dicekoki oleh paham-paham radikal.

Melihat pola penyerangan para teroris untuk akhir-akhir ini mereka menyerang aparat kepolisian. Kepolisian yang dianggap dapat melindungi warga mendapatkan serangan bertubi-tubi di berbagai daerah oleh teroris dengan tujuan apabila aparat kepolisian ini melemah maka masyarakat akan lebih mudah dimasuki oleh teroris. Nah salah satu ancaman mengenai pertahanan negara seperti ini seharusnya diwaspadai oleh masayarakat terutama generasi muda melalui dunia maya.

Mengingat perjuangan para pejuang dalam memerdekakan bangsa Indonesia, ada baiknya jika mulai saat ini kita berusaha untuk mempertahankan negara dimulai dari cara yang sangat sederhana. Menjadi duta damai bagi keluarga yang kemudian menyebarkan pengaruh positif ke dalam masyarakat sekitar merupakan cara yang sederhana yang dapat kita lakukan sehari-hari. Menjadikan Indonesia damai bukan hanya tugas pemerintah, aparat atau segelintir orang yang menjadi duta damai tetapi tugas kita semua sebagai warga negara Indonesia yang memiliki wawasan kebangsaan.

“Bagi orang muda lakukan yang terbaik dari Tuhan Allah yang telah memberikan kebaikan-kebaikan. Dalam kehidupan yang dikenang itu ada dua, yaitu kebaikannya atau kejahatannya.

Jadi, mumpung masih muda masih punya waktu panjang, gunankanlah kebaikan itu bagi orang lain. Maka hal itu akan membuat kita menjadi orang bermartabat. Sehingga keIndonesiaan kita akan tampak.

Sebagai orang muda, tindakan kita tidak terbatasi. Mumpung masih muda dan umur panjang maka gunakan kebaikan itu sebaik-baiknya tanpa membatasi tentang yang diungkapkan oleh Abdurrahman Wahid, mengenai kesukuan, ke-ras-an, atau hal-hal secara fisik itu memisahkan.

Dan refleksi saya yang menyatukan kita adalah darah dari orang-orang yang memperjuangkan kemerdekaan negara ini,” Rm. Teguh Santosa, pr.