Youth Peace Ambassador Workshop 2022

Youth Peace Ambassador

Youth Peace Ambassador Workshop 2022

(Youth Peace Ambassador UNODC X DUTA DAMAI BNPT) Surabaya, 6 – 8 April 2022 UNODC (United Nation Office on Drugs and Crime) bekerjasama dengan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) mengadakan acara Youth Peace Ambassador Workshop dalam jangka waktu tiga hari dengan mengusung tema “ Growing Tolerance Through Peaceful Narratives” berlokasi di Hotel Doubltree by Hilton Surabaya. 28 Peserta dari perwakilan 14 Regional Duta Damai di Indonesia begitu antusias mengikuti serangkaian acara yang diawali dengan Pembukaan oleh Mr. Collie F. Brown selaku Country Manager and Liasion to ASEAN UNODC.

Dalam sambutannya beliau menyampaikan dalam bahasa inggris yang diterjemahkan “ Cara ketahanan pemuda memanifestasikan dirinya sangat tergantung pada lingkungan sosial, ekonomi dan politik mereka. Ketika kaum muda diberdayakan dan diberikan kesempatan untuk berpartisipasi, kemungkinan besar mereka akan memanfaatkan ketahanan mereka secara konstruktif.

Untuk alasan ini, pemuda adalah aset dunia yang paling penting dalam pembangunan perdamaian” beliau mengakhiri sambutan dengan ucapan selamat kepada para peserta. Selanjutnya Bapak Nisan Setiadi, S.E selaku perwakilan dari BNPT ( Badan Nasional Penanggulangan Terorisme juga turut berpesan “ Dunia Maya adalah ruang tanpa batas yang dimanfaatkan para anggota ekstrimisme dan radikalisme untuk saling menebar propaganda serta ideologi berbahaya. Maka anak muda jangan sekedar sadar tapi harus turut berkontribusi menebar perdamaian di dunia maya”.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNODC) telah mengadopsi resolusi 2050 tentang Pemuda, Perdamaian dan Keamanan pada tahun 2015. Resolusi itu mengakui adanya kontribusi penting para pemuda dalam upaya pemeliharaan dan promosi perdamaian serta keamanan. Resolusi tersebut mencatat pentingnya peran pemuda dalam mencegah dan melawan ekstremisme kekerasan kondusif untuk terorisme. Di Indonesia, peran pemuda dalam mencegah ekstremisme kekerasan yang mengarah pada terorisme telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir.

Salah satu inisiatif yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia adalah Program Duta Perdamaian Pemuda atau dikenal sebagai “ Duta Damai”. Program ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2015 oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk melawan narasi radikal di kalangan anak muda.

Dalam beberapa tahun, program ini telah menjaring 453 peserta pemuda dari 13 provinsi di Indonesia, yang telah menerbitkan 1.783 artikel, 824 infografis, dan 134 video dengan konten naratif alternatif. Peran Duta Damai tidak hanya terbatas pada ruang dunia maya, tapi mereka juga mengadakan berbagai program offline yang bertujuan mengenalkan perdamaian kepada masyarakat luas secara langsung. Maka dari itu workshop ini diselenggarakan untuk mencapai resolusi UNODC maupun BNPT dalam mencegah terorisme.

BACA JUGA: Silaturahmi Duta Damai Yogyakarta Bersama Polda DIY

Rangkaian Acara Workshop Duta Damai

Youth Peace Ambassador
Youth Peace Ambassador

Workshop perdamaian diawali dengan diskusi gambaran singkat mengenai perkembangan dan tren kontraterorisme dan pencegahan ekstremisme kekerasan di Asia Tenggara bersama narasumber yang terpercaya Ms. Avezia Ariane, UNODC National Programme Officer for Terrorism Prevention, Mr. David Izadifar ( Counterterrorism Programme Coordinator, UNODC Regional Office for South East Asia) kemudian dilanjutkan oleh  Mr. Marco Venier ( Counterterrorism Programme Coordinator, UNODC Indonesia ).

Di hari pertama para narasumber menjelaskan secara detail asal berkembangnya gerakan radikalisme dan terorisme hingga perkembangannya saat ini. Selain itu mereka juga membuka sesi diskusi agar para peserta bisa bertanya maupun menyuarakan langsung kondisi terkini yang dialami dalam menangkal isu radikal terorisme.

Pada setiap sesi terakhir menjelang berbuka puasa, UNODC juga mendatangkan narasumber ahli di bidang pembuatan konten alternatif yang berpengaruh di sosial media yaitu Kak Marvin Sulistio ( News Anchor Metrotv ) yang juga aktif menjadi konten creator di instagram maupun TikTok.

Tak kalah menarik dari hari pertama, di hari kedua peserta dibekali pengetahuan seputar keamanan manusia oleh Ms. Hitomi Kubo, Office of the Special Adviser to the Secretary General on Human Security (Human Security Unit) dan – Ms. Erika Yague, Activist on Youth, Peace and Security Issue.

BACA JUGA: Memahami Genealogi Perang

Dalam sesi ini diperkenalkan secara langsung definisi aman dari berbagai aspek sekaligus metode analisa penyebab serta penanggulangan tindak kriminal, radikal maupun terorisme. Ms. Erika Yague juga menyebutkan bahwa penyebab tindakan tidak aman terbesar di dunia adalah tingginya tingkat kemiskinan yang memicu beragam tindakan membahayakan. Apabila kondisi ini tidak segera ditangai maka peluang tersebut akan dijadikan peluang para jaringan terorisme untuk memperbanyak anggotanya dengan imingan bantuan terhadap mereka.

Tangis para peserta pecah saat menyaksikan langsung video dan cerita perjalanan para eks Napi Terorisme oleh rekan – rekan ruangdamai.id ( organisasi yang membantu para eks terorisme untuk kembali memulai hidupnya dalam ruang damai). Sebagian besar awal mereka masuk dalam jaringan tersebut dikarenakan sosial media, asal ikut orang tua bahkan hanya karna keinginan tampil keren memegang senjata. Sampai pada akhirnya mereka tertangkap oleh Tim Densus 88 dan  menerima berbagai macam terapi untuk pulih kembali. Penyesalan terbesar yang mereka alami doktrin ideologi yang membuat mereka jauh dari keluarga dan mencelakai orang lain.

BACA JUGA: Cara Berdamai dengan Penolakan

Workshop ditutup pada hari ke 3 dengan Presentasi karya setiap kelompok yang sudah ditugaskan sejak hari pertama pelatihan. Pada sesi ini setiap kelompok begitu semangat menyampaikan hasil karya tulis, infografis maupun meme yang telah dibuat berdasarkan konsep narasi alternatif untuk mencegah konten radikal terorisme. Setelah semua kelompok mempresentasikan karyanya dan menerima evaluasi langsung dari BNPT, UNODC dan Kak Marvin Sulistio acara ditutup dengan pembagian sertifikat serta motivasi agar kembali ke regional masing – masing untuk menyampaikan beragam pengetahuan yang didapat kemudian mengeksekusi content perdamaian yang mampu menarik para pengguna sosial media.  

Editor: Bennartho Denys

Share this post

Comments (3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.