Fenomena Hypophrenia di Kalangan Mahasiswa

Mahasiswa

Fenomena Hypophrenia di Kalangan Mahasiswa

Kamus psikologi referensi Oxford mendefinisikan fenomena hypophrenia adalah keterbelakangan mental atau disabilitas intelektual. Orang dengan keterbelakangan mental memiliki kesulitan dalam fungsi intelektual dan fungsi adaptifnya, yang meliputi kehidupan sosial dan keterampilan praktis (IQ). Definisi tersebut tidak menggambarkan secara langsung gejala yang dialami oleh penderita hypophrenia.(Resna, 2020)

Salah kaprah persoalan Fenomena hypoprenia

Sobat Duta Damai, Hypoprenia ini nampaknya masih sangat asing ditelinga masyarakat pada umumnya. Namun, orang-orang seringkali mendefinisikannya  sebagai suatu gangguan emosional yang tak lain dari kondisi seseorang dalam suasana tak menentu, bahkan bisa berubah-ubah.

Padahal berdasarkan keterangan yang dikutip dari WebMD, definisi keterbelakangan mental atau hypophrenia adalah kondisi yang ditandai dengan kecerdasan atau kemampuan mental di bawah rata-rata dan kurangnya keterampilan yang diperlukan untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan normal”.

Namun pernyataan yang menyebutkan bahwa hypoprenia ini ialah kondisi mental seseorang yang menyebabkan seringkali menangis tanpa sebab, tak sepenuhnya dianggap tidak benar. Perspektif yang diungakpan dari WebMD bisa balance dengan banyak dari keterangan yang menjelaskan bahwa hypophrenia ini menandakan bahwa seseorang yang ketika datang sesuatu yang menyenangkan pasti akan bahagia, dan ketika terjadi sesuatu hal yang tidak menyenangkan atau mengalami kejadian buruk maka relfek akan menjadi sedih ataupun menangis. Hal ini berbeda ceritanya bagi orang-orang yang mengalami sebuah gangguan emosional tak menentu yang kerapkali disebut “Hypoprenia” yang mana seseorang akan merasa sedih secra tiba-tiba, bahkan disaat yang tidak menentu sekalipun. Begitupula disaat seseorang berduka atau mengalami hal malang akan tiba-tiba senang maupun bahagia. Sehingga membuat emosional menjadi tidak tepat dan cenderung datang secara tiba-tiba.

Apa saja ciri-ciri dari hypoprenia?

Dilansir dari Beauty Journal.id Rena Masri M.Psi seorang psikolog klinis mengatakan bahwa hypophrenia merupakan kondisi gangguan kesehatan mental yang dialami oleh seseorang yang kerapkali sedih, menangis tanpa sebab, dan tidak disertai alasan yang jelas. Gangguan kesehatan mental ini menjadi problematika yang cukup kuat untuk dituntaskan. Kondisi ini kadangkali sering disalah artikan sebagai bipolar, padahal hakikatnya kedua jenis tersebut memiliki perbedaan yang sangat jelas. Untuk bipolar ialah gangguan mental yang dihadapi oleh manusia yang sering mengalami perubahan mood atau suasana hati, dan kejadian ini bisa datang kapan saja dengan sangat cepat. pengidap bipolar ini akan merasakan depresi yang amat dalam, dan juga seringkali tiba-tiba merasa sangat bahagia. Sedangkan untuk penderita hypophrenia, seseorang lebih cenderung mengalami satu fase saja yang membuatnya bisa merasa sedih dan menangis secara tiba-tiba tanpa sebab.(Ochi, 2018)

Ya Sobat Duta Damai, seperti yang telah kita ketahui diatas, tidaklah sepenuhnya tepat pandangan yang mengatakan bahwa hypophrenia ini ialah menangis secara tiba-tiba. Namun, istilah itu telah terlanjur dipakai untuk menjelaskan kondisi medis oleh kebanyakan orang. 

Nah, sebaiknya jika Sobat Duta Damai mengalami kesedihan secara tiba-tiba, menangis tanpa sebab, maka alangkah tepatnya berkonsultasi dengan dokter, psikolog, ataupun psikiater supaya dapat menemukan penyebab pastinya serta solusi yang benar. Meskipun seperti itu, banyak sekali kondisi-kondisi serta faktor pemicu dari menangis tanpa sebab, yakni problematika neurologis, ketidakseimbangan hormone, hingga gangguan kesehatan mental.

Depresi

Depresi merupakan kondisi yang paling sering dialami oleh kebanyakan orang, terutama pelajar dan mahasiswa, apalagi mahasiswa semester akhir. Padatnya kegiatan akademik, organisasi, tugas-tugas, dan persiapan untuk skripsi, maka wajar jika terjadi keletihan fikiran dan juga tenaga yang terus dikuras habis.

Sejatinya, depresi ini ialah suatu keadaan emosional yang biasanya ditandai dengan kesedihan mendalam, perasaan diacuhkan bahkan dianggap tidak berarti dan bersalah, menarik diri dari orang lain, sulit tidur, hilangnya nafsu makan, hasrat seksual, dan minat serta kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan (Davison, 2006: 372).(Lailil M, 2012)

Sedih yang berlarut-larut

Kesedihan merupakan perasaan yang timbul akibat kehilangan sosok atau seseorang dalam kehidupan kita, atau karena mengalami sesuatu yang diluar ekspektasi, dsb nya. Maka atas hal itulah timbul kesedihan, dan bilamana sesuatu yang kita sedihkan itu belum bisa diikhlaskan maka yang ada adalah timbulnya kesedihan persisten.

Dikutip sehatq.com BA adalah kondisi neurologis (kondisi yang memengaruhi otak dan saraf) yang menyebabkan seseorang menangis. Kondisi ini terjadi karena terputusnya hubungan antara lobus frontal otak, otak kecil, dan batang otak.

Lobus frontal berfungsi untuk mengontrol emosi, sedangkan otak kecil dan batang otak membantu mengatur refleks tubuh. Terputusnya koneksi antara ketiga bagian ini dapat menyebabkan disregulasi emosional yang bisa menyebabkan seseorang menangis, marah, atau tertawa secara tidak terkendali.

Pseudobulbar affect (PBA)

Nah ketiga faktor diatas mungkin menjadi beberapa pemicu dari menangis tanpa sebab atau tidak tahu darimana asal muasalnya, bisa jadi itu efek dari masalah hormone (menstruasi dan kehamilan), kecemasan berlebih, burnout, maupun faktor lainnya.

Orang yang mengalami gangguan hypophrenia ini seringkali mempunyai IQ yang dibawah 75, juga memiliki permasalahan dalam menyeimbangkan dirinnya dengan kehidupan sehari-hari. Penderita ini dapat mengalami disabilitas dalam belajar, berbicara, hubungan sosial, sampai fisik yang kurang normal. Penyebab hypophrenia sendiri tidak selalu bisa ditelaah oleh medis. Tetapi, ada beberapa kondisi yang dapat membuktikan mengenai penyebabnya. Berikut yang telah dirangkum dari laman sehatqu.com :

  • Penyakit yang diturunkan, seperti fenilketonuria (PKU) atau penyakit Tay-Sachs.
  • Kelainan kromosom seperti pada Down Syndrome.
  • Trauma sebelum lahir, seperti infeksi atau paparan terhadap racun, obat-obatan terlarang atau alkohol.
  • Trauma saat lahir, seperti persalinan prematur atau kekurang oksigen.
  • Penyakit di awal masa kanak-kanak yang parah, seperti batuk rejan, campak, hingga meningitis.
  • Keracunan timbal atau merkuri.
  • Malnutrisi parah atau masalah pola makan lainnya
  • Cedera otak.

Lantas apa hubungan Fenomena Hypophrenia dengan Mahasiswa?

Yes, Mahasiswa ataupun pelajar, dengan segenap kesibukannya yang tiada henti . Terlebih bagi seorang aktivis kampus, disela-sela padatnya dunia akademik. Dibarengi dengan organisasi serta kepanitiaan, konferensi, lomba, dan segudang kegiatan lainnya, pasti akan mengalami kelelahan yang amat sangat. Selain otak yang terus diperas, juga tenaga yang dituntut untuk terus prima secara persisten.

Maka, dalam kondisi tersebutlah seringkali terjadinya suatu sisi yang sangat melelahkan, atau biasa disebut dengan titik lelahnya seorang mahasiswa. Dari sini tak asing jika ditemukan mahasiswa yang depresi, termenung terus menerus, melamun, bahkan mengurung diri dikamarh secara terus-menerus. Apakah kondisi tersebut merupakan dari hypophrenia? Sobat Duta Damai pasti sudah tahu dong jawabannya setelah baca penjelasan diatas. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Segerakan untuk berkonsultasi dengan dokter, psikolog, atau psikiater untuk menemukan solusi terbaiknya ya.

BACA JUGA: Kritik Pancasila, Relevankah?

Perasaan sedih tiba-tiba, menangis tanpa sebab, itu tidaklah benar untuk didiamkan, maka sebaiknya segera diatasi problematika tersebut. Selain itu, hal demikian dapat memicu ketidakharmonisan antara penderita dengan orang-orang disekitarnya, karena seringkali  kesedihan dan emosi tak menentu itu juga akan berdampak buruk kepada orang lain, seperti melampiaskan kemarahan, kebencian, dan sebagainya. Dengan mengatasi hypophrenia, kita sudah berkontribusi untuk perdamaian dengan orang-orang disekitar, teman, masyarakat, supaya tidak terkena imbas dari emosi diri kita sendiri.

Sumber Referensi:

Lailil M, N. (2012). Hubungan koping dengan tingkat premenstrual syndrome pada mahasiswi fakultas psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Repositori UIN Malang, 9–39.

Ochi, E. (2018). Mengenal Hypophrenia, Kondisi Seseorang yang Sering Menangis Tanpa Sebab. Journal.Sociolla.Com. Retrieved from https://journal.sociolla.com/lifestyle/mengenal-hypophrenia/

Resna, N. (2020). Hypophrenia adalah Keterbelakangan Mental, Ini Mitos dan Faktanya. Sehatq.Com. Retrieved from https://www.sehatq.com/artikel/hypophrenia-gangguan-mental-yang-membuat-seseorang-menangis-tanpa-alasan

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *