free page hit counter

Perempuan: Dari Korban ke Garda Terdepan dalam Melawan Radikalisme

Perempuan
Perempuan

Perempuan: Dari Korban ke Garda Terdepan dalam Melawan Radikalisme

Peran perempuan dari masa pra-Islam hingga sekarang mengalami pergeseran, baik di ranah domestik maupun publik. Mereka pada awalnya dianggap tidak ada, kemudian terlihat bayang-bayangnya saja, hingga akhirnya diakui keberadaannya mengalami proses yang panjang. Sebagaimana uang koin yang memiliki dua sisi, sama halnya dengan “diakuinya”  keberadaan perempuan. Peran wanita yang semakin masif ini, ternyata juga bisa terjungkal ke arah negatif jika ia mengonsumsi paham-paham radikalisme. Semakin ironis jika virus radikalisme ini berbuah menjadi aksi-aksi terorisme.

Objektivikasi yang terjadi pada perempuan di masa pra-Islam berpengaruh pada sejauh mana mereka dapat bergerak. Mereka yang awalnya hanya menjadi warisan, kemudian berubah menjadi dapat bagian warisan. Hal ini tentu membutuhkan proses panjang untuk mencapai cita-cita menjadikan perempuan sebagai subjek penuh. Padahal Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa mereka mempunyai peluang yang sama dalam mencapai spiritualitas tertinggi sebagaimana laki-laki. Perempuan dapat mendekat kepada Tuhannya secara langsung tanpa melalui perantara laki-laki. Namun, ayat-ayat yang populer di masyarakat justru pemahaman yang kurang adil gender. Ini juga menjadi salah satu penyebab semakin masifnya paham radikalisme di masyarakat.

Mengapa Mereka Menjadi Sasaran Empuk Radikalisme?

Selama dua dekade terakhir, semakin canggihnya teknologi sebagai media komunikasi, berimbas juga pada wanita yang turut ikut berpatisipasi dalam mengelola situs-situs organisasi teroris di internet. Perempuan semakin meningkat perannya dalam aksi terorisme. Banrun Niam, pemimpin ISIS asal Indonesia, mengatakan alasan perlunya mengajak perempuan dalam aksi terorisme karena laki-laki yang bersedia menjadi teroris semakin sedikit jumlahnya. Faktor lainnya yaitu karena mereka dianggap lebih mudah dipengaruhi, terutama mereka yang mempunyai problem dalam keluarga atau rumah tangganya. Selain itu, ada juga alasan yang mengatakan mereka dinilai sangat loyal pada ajaran ideologi agama. Sikap ini dapat menjadi bekal untuk melahirkan aksi yang lebih militan.

Dari sekian alasan yang tersebut, ada beberapa alasan yang cukup mengemuka. Pertama, perempuan biasanya lebih leluasa bergerak dari pada laki-laki, serta aparat keamanan tidak terlalu mencurigainya. Kedua, perempuan yang terlibat dalam aksi bom bunuh diri menjadi daya tarik tersendiri bagi media massa. Apalagi di era digital ini, reporter dapat membuat informasi tersebar dengan cepat dan lebih hidup (dramatis). Hal ini karena menggunakan tubuh mereka menjadi highlight sebuah berita dengan mengemasnya lebih dramatis. Ketiga, keterlibatan perempuan secara aktif dalam aksi teror menggugah api semangat laki-laki menjadi jihadis. Hal ini karena akan muncul pemikiran, “Perempuan saja bisa, kaum laki-laki harusnya lebih bisa!”.

Berbicara tentang terorisme dan hadirnya negara dalam mengkonter aksi terorisme, pasti tidak terlepas dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Pada rapat internal BNPT dan jajarannya tepatnya pada bulan Februari 2024, menyebutkan aksi terorisme pada tahun terakhir sudah bersih. Namun tetap BNPT akan berupaya mengikis paham-paham radikalisme yang telah tersebar dalam masyarakat. Duta damai yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia turut hadir dalam rapat tersebut. BNPT dan Duta Damai pada tahun 2024 akan memfokuskan pendidikan anti radikalisme pada kaum wanita. Menurut BNPT, perempuan merupakan garda depan dalam penanggulangan radikalisme.

Perempuan sebagai Pelopor Anti-Radikalisme

Topik ini penting untuk dibahas karena kita akan melihat bagaimana pergerakan wanita dari masa ke masa juga mempengarruhi keterlibatannya dalam paham radikalisme dan aksi terorisme. Wanita yang awalnya menjadi sasaran ajakan menjadi pelaku terorisme, berubah menjadi wanita sebagai garda terdepan dalam penanggulangan terorisme. Mereka dalam hal ini memiliki peran dalam menanamkan nilai-nilai toleransi pada anaknya. Demikian juga bagaimana perempuan menyebarkan nilai-nilai perdamaian di ranah publik.

Perempuan mempunyai peran penting dalam panggung penanggulangan radikalisme. Dalam misi besar ini, mereka juga memerlukan dukungan dari seluruh pihak, seperti keluarga, lingkungan sosial hingga negara. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan agar memaksimalkan peran perempuan sebagai agen perdamaian. Pertama, sisi keyakinan agama. Memahami kembali ayat-ayat secara komprehensif agar tidak ada kesalahan pola pikir. Kedua,  sisi peran domestik dan publik. Perlu mereduksi ketidakadilan gender dan memberikan ruang yang lebih besar pada keterlibatan perempuan di ruang sosial.

Ketiga, sisi kesejahteraan. Perlu adanya penguatan kesejahteraan multisektoral mulai dari lingkup terkecil (keluarga), hingga lingkup yang luas (negara). Dalam hal ini, negara bukan hanya memberikan penyuluhan tentang pentingnya peran perempuan membungihanguskan radikalisme, namun juga membuat lebih banyak kebijakan-kebijakan yang bernafaskan keadilan gender. Poin yang paling penting yaitu seluruh rangkaian strategi penanggulangan radikalisme ini  tetap harus berada dalam bingkai hak asasi manusia dan keadilan.

Share this post

Comment (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *