Asiknya Nongkrong di Warung Burjo

Warung Burjo

Asiknya Nongkrong di Warung Burjo

Warung burjo (burjo: bubur kacang ijo) atau masyarakat Jogja sering menyebutnya dengan burjonan adalah warung makan terkenal yang banyak dikunjungi oleh pelajar dan mahasiswa untuk menuntaskan urusan perut atau sekedar nongkrong sambil ngobrol ngalor ngidul. Burjonan sangat mudah ditemukan di Jogja, dari pusat kota yang ramai sampai di sudut gang pasti ada burjonan apalagi di daerah sekolah atau kampus, burjonan bak jamur yang tumbuh di sana-sini. Nama warung burjo diambil dari salah satu menu makan yang disediakan yaitu bubur kacang ijo.

Dulu bubur kacang ijo adalah menu utama warung ini, tetapi seiring berjalannya waktu terjadi pergeseran permintaan makanan yang lebih variatif seperti olahan mie instan, berbagai menu nasi, dan beraneka lauk pauk yang lebih mengenyangkan. Bahkan saat ini ada beberapa burjonan yang sudah tidak menjual bubur kacang ijo karena pelanggannya lebih banyak memesan menu yang lebih ‘berat’.

Saya sendiri adalah fans garis keras burjonan, saat saya kuliah dulu, ketika lapar melanda, burjonan adalah pilihan tempat makan yang saya dan teman-teman saya tuju. Menunya yang variatif serta harganya yang relatif murah membuat saya jatuh hati pada burjonan.

Kursi dan mejanya yang didesain untuk ditempati banyak orang membuat saya dan teman-teman saya bisa makan sambil ngumpul bareng. Seolah aa burjo, sebutan untuk mas-mas penjaga burjonan, tau apa yang kami butuhkan. Sebagai pelanggan setia, saya menemukan keasikan sendiri saat berkunjung ke burjonan. Ada hal baik yang saya temukan selama petualangan saya sebagai pelanggan burjonan.

BACA JUGA: Sudahkah Merdeka Pendidikan di Indonesia?

Pengalaman Ketika Nongkrong di Warung Burjo

Warung Burjo
Photo via: Suara.com

Burjonan yang paling banyak saya kunjungi adalah salah satu burjonan di dekat kampus saya yang letaknya juga berdekatan dengan beberapa kampus lainnya. Saya paling sering makan di burjonan saat malam hari selepas dari kegiatan UKM kampus bersama teman-teman saya. Lokasinya yang diapit oleh beberapa kampus itu membuat pengunjungnya menjadi beragam.

Mayoritas mahasiswa yang makan di burjonan adalah mahasiswa perantauan dari berbagai daerah yang sedang menempuh pendidikan di Jogja. Imbasnya, saya jadi bisa mengenal berbagai macam bahasa daerah, saya tau bagaimana asiknya bahasa ngapak, saya tau bagaimana lembutnya bahasa sunda saat beberapa pelanggan sedang ngobrol dengan aa burjo, saya tau betapa akrabnya orang Jawa Timur saat ngobrol dengan logat Jawa Timuran, atau betapa uniknya dialek bahasa Papua saat beberapa mahasiswa Papua sedang nongkrong.

Yang lebih asik adalah saat timnas sepakbola Indonesia sedang berlaga dan disiarkan di stasiun televisi. Burjonan menjadi tempat rujukan untuk nonton bareng. Suasana burjonan pun menjadi lebih hidup. Tak peduli dari daerah mana pelanggan burjonan berasal, kami bersama-sama mendukung timnas kesayangan. Burjonan menjelma menjadi tribun stadion yang ramai oleh para supporter yang bersorak sambil nyemilin gorengan. Kalau timnas menang bahagianya tidak karu-karuan, tapi kalau kalah, sedihnya bak menyeruput kopi yang tak lagi hangat.

BACA JUGA: Tong Kosong Nyaring Bunyinya

Keberagaman yang ada di burjonan membuat saya betah nongkrong di situ. Saya senang berada dalam suasana yang penuh dengan keberagaman dan hal itu saya dapat secara alami di burjonan. Saya bisa makan dengan santai tanpa terganggu oleh pelanggan lain. Teman-teman saya pun enjoy saja dengan suasana yang seperti itu. Saya seperti melihat Indonesia dengan ragam suku, bahasa, dan budayanya. Sungguh ini adalah anugerah yang patut disyukuri, saya dapat mempelajari sedikit bahasa daerah yang saya dengar, saya bisa bersosialisasi dengan orang dari daerah lain, saya menjadi lebih paham mengenai arti kebhinekaan yang menyatukan bangsa Indonesia, itu semua saya dapatkan dari meja burjonan.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.