free page hit counter

Berkunjung ke Rumah Ibadah Agama Lain Auto Murtad

Berkunjung ke Rumah Ibadah Agama Lain Auto Murtad

Contents

Masalah keyakinan ini memang selalu menjadi satu bahasan sensitif. Bahkan perkara mengunjungi rumah ibadah pemeluk agama lain bisa menjadi satu isu kontra yang pembahasannya bisa berjilid-jilid. Sebenarnya seberapa jauh sih kita memahami konsep toleransi? Okelah kalau pun toleransi masih dibilang terlalu mengada, maka pertanyaannya ganti, seberapa yakin kita kepada keimanan diri sendiri?

Bertetangga Dengan Gereja Kristen

Beberapa hari lalu saya berkunjung ke pura, rumah ibadah kawan Hindu. Usai saya posting acara di sana, ada saja yang komen. Bertanya tentang ini dan itu. Ya padahal kan saya ke sana cuma menghadiri undangan alias tamu. Pun hanya duduk di pendopo komplek pura. Tidak lupa magrib dulu di masjid kampung tidak jauh dari pura. Lalu apakah dengan saya duduk beberapa jam di situ lantas gugur semua iman yang ada dalam diri saya?

Hal ini mengingatkan pada masa saat kanak-kanak. Rumah saya tidak jauh dari gereja Kristen. Tiap hari minimal dua kali lewat jalan depan gereja. Sebab berangkat dan pulang sekolah lewat jalan tersebut. Belum lagi tiap Sabtu sore atau Minggu pagi, selalu terdengar suara lonceng dari gereja. Lalu mendadak ada yang bilang katanya orang muslim tidak boleh masuk ke gereja. Kalau masuk ke gereja akan disebut murtad. Saya yang masih polos ya percaya aja dengan omongan itu. Lupa siapa yang omong, kalau tak salah ingat ya kawan saya sendiri yang tiap harinya juga lewat gereja.

Karena omongan itulah maka sepanjang ingatan kecil saya, tidak sekalipun saya pernah menginjak kaki di gereja. Takut jika agama saya luntur. Ehe.

Tamu di Rumah Ibadah Agama Lain

Hari ini setelah sedikit belajar akidah akhlak malah saya jadi ketawa mengingat kisah masa lalu. Lalu makin nyengir ketika ada yang mengatai hal miring hanya karena menginjakkan kaki di rumah ibadah agama lain. Duh betapa dangkal sekali jika mengartikan kunjungan sebagai kemurtadan. Padahal ya jelas-jelas di dunia ini ada ajaran yang namanya fiqih muamalah.  Tidak ada larangan untuk kita saling berinteraksi dengan pemeluk agama lain selama bukan masalah akidah dan ibadah.

Bayangkan jika berkunjung ke rumah ibadah agama lain dianggap murtad, bayangkan berapa banyak orang murtad setelah datang ke Candi Borobudur atau candi-candi yang lain. Bukankah candi juga merupakan rumah ibadah pemeluk agama Budha?  Lalu bagaimana kabar kawan kita yang beragama non muslim yang main ke masjid atau pelataran masjid? Apa iya mereka lalu seketika jadi Islam?

Bahkan dari yang saya baca ada beberapa pendapat dari ulama tentang perkara berkunjung ke rumah ibadah agama lain. Ada yang bilang boleh berkunjung ke rumah ibadah agama lain selama tidak ada ritual peribadatan dari agama lain tersebut. Ada juga ulama yang tidak membolehkan berkunjung ketika sedang ada ritual ibadah agama di rumah ibadah agama lain tersebut. Hal ini semata-mata karena menjaga akidah.

Lagi sekali lagi, berkunjung bukan melakukan ibadah selayaknya ibadah pemilik tempat ibadah lain itu tidak apa. Rasanya setiap orang sudah punya kapasitas keimanan masing-masing, agak tidak sopan kalau orang lain melabeli keimanan orang lain yang bukan dirinya. Pula keimanan seseorang itu tidak mungkin cepat pudar hanya gegara sekali dua kali main ke rumah ibadah agama lain. Wong buktinya setiap ada pernikahan di gereja, dukuh saya yang muslim juga diundang dan santai saja tidak serta merta pulang dengan menyandang agama baru.

Keimanan Orang Lain Bukan Tanggung Jawab Kita

Begitu pun saya juga meyakini kalau ada umat agama lain sanggup menghafal dan mengucap  syahadat bukan berarti dia auto jadi muslim.

Untuk seseorang yang merasa aneh dengan temannya yang berkunjung ke rumah ibadah agama lain, tolong mulai sekarang lebih santai dan membuka wawasan lebih luas. Saya tahu kok sebenarnya anda-anda ini maha luas pengetahuannya dan juga sangat peduli. Kalau tidak peduli ya mana ada ceritanya sampai berkomentar berjilid-jilid.

Coba lain kali sebelum memberi label atau sebelum mencela  orang lain tanya dan cari tahu dulu. Daripada salah tafsir dan justru merugi sendiri. Ingat menuduh orang lain tanpa bukti juga ada ganjarannya.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *