Pendidikan Pancasila: Jawaban Solutif dari Masa Lalu

PANCASILA

Pendidikan Pancasila: Jawaban Solutif dari Masa Lalu

Baru – baru ini dunia pendidikan mendapatkan kabar gembira dengan adanya penambahan Pancasila sebagai kurikulum wajib. Melalui revisi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim tentang Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) kepada Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) akhirnya impian masyarakat Indonesia khususnya para guru dan murid sekolah bisa terwujud.

Pancasila sebagai konsep dasar negara merupakan gagasan ideal yang mampu menjadi tonggak perjalanan Indonesia dalam mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya. Nilai–nilai yang telah dirumuskan di dalamnya oleh para pahlawan memiliki arti luhur yang sesuai untuk kebutuhan Negara.

BACA JUGA: Youth Peace Ambassador Workshop 2022

Namun, seiring berjalannya waktu Pancasila hanya berhenti menjadi teori pembelajaran bagi masyarakat tanpa adanya aktualisasi nyata dari seluruh elemennya. Cita – cita luhur para pemrakarsa Pancasila tidak dapat terwujud tanpa adanya kerjasama menyeluruh dalam jangka waktu panjang.

Pemerintah dan masyarakat kian sibuk mencari solusi dari berbagai Negara dan metode untuk membenahi beragam konflik maupun krisis yang terjadi, padahal lima konsep Dasar Negara merupakan jawaban solutif yang bisa membentengi tatanan pemerintahan dan sosial secara ekslusif.

Maka beragam metode dan kampanye yang menyuarakan bahwa “ Pancasila bukan hanya dihafal, tapi diaktualisasikan !” harus menjadi fokus utama untuk ditindaklanjuti secara terarah dan progresif demi terwujudnya cita – cita luhur Bangsa Indonesia sejak proklamasi kemerdekaan tahun 1945 silam.

Setiap orang Indonesia harus kembali sadar metode manajemen konflik yang sesuai dengan kondisi bangsa sudah tertulis sejak lama. Konflik propaganda terjadi karena kurangnya aktualisasi secara nyata bukan hanya sekedar edukasi masyarakat pada Pancasila secara semata, karena nilai yang ditangguhkan harus dipahami secara kontekstual bukan hanya tekstual yang akhirnya menimbulkan beragam kesalahfahaman dalam memaknai Pancasila itu sendiri.

BACA JUGA: Memahami Genealogi Perang

Peran Pemuda Dalam Aktualisasi Pendidikan Pancasila

Garuda Pancasila, Indonesian national emblem in Monumen Juang 45 (Monument to the Struggle )

Peran pemuda berdaya sebagai aset positif untuk menyuarakan gerakan aktualisasi pancasila merupakan tahap awal yang paling penting untuk dimulai. Generasi yang rentan terhadap jaringan komunikasi propaganda harus dibekali secara intensif berdasarkan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki agar upaya yang dilakukan terpogram sejalan dengan cita – cita Pancasila.

Pembekalan tersebut bertujuan membentuk resiliensi dan komitmen generasi muda dalam memperjuangkan nilai – nilai Pancasila. Sehingga ketika memegang peranan penting ini, keterlibatan pemuda akan menguatkan posisi agar aktualisasi dapat tersampaikan secara langsung kepada masyarakat  dengan mudah melalui pendekatan kultural, individual, kelompok hingga realitas.

Secara aktual, metode aktualisasi Pancasila yang terstruktur harus digarisbawahi untuk tetap menjadi pedoman perjuangan generasi muda dan pemerintahan. Supaya tidak asal bergerak sehingga  menimbulkan kegaduhan sampai merugikan banyak pihak.

Pertama, generasi muda harus diajak terjun langsung untuk menganalisa konflik yang terjadi di masyarakat maupun pemerintah secara mendalam hingga ke akarnya. Analisa tersebut sangat penting dilakukan agar pencegahan maupun penanganan dapat dibenahi secara teratur dari berbagai elemen penyebab konflik. Layaknya luka pada kulit yang tidak hanya bisa disembuhkan dengan obat luar tapi juga memerlukan obat dalam agar segera sembuh. Semangat kritikal analisis anak muda diharapkan menjadi modal utama suksesnya analisa yang tepat sasaran.

BACA JUGA: Cara Berdamai dengan Penolakan

Kedua, membuat rumusan konflik konkret yang telah dianalisa secara matang kemudian mendiskusikan bersama beragam metode gerakan penanganan yang sesuai dengan dasar nilai Pancasila. Dalam gerakan ini kebijakan Pentahelix yang melibatkan para akademisi, pengusaha, komunitas, pemerintahan dan media sangat membantu mensukseskan aktualisasi.

Beberapa contoh yang dapat dijadikan bukti bahwa Pancasila sangat relevan dijadikan pedoman manajemen konflik seperti permasalahan diskriminasi agama dan kepercayaan bisa diselesaikam dengan sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Selanjutnya mengenasi krisis kemanusiaan dan moral yang menyebabkan masyarakat tidak nyaman tinggal di lingkungan sosial juga telah dirumuskan pada sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab. Masalah dalam beragam perbedaan antar umat, etnis maupun budaya yang telah dibahas pada sila ke 3, bahkan mengenai polemik kebijakan pemerintahan sampai pada keadilan juga telah disebutkan pada sila ke 5.

Terakhir, evaluasi dan supervisi program oleh pihak yang menguasai nilai – nilai pancasila juga harus dilaksanakan agar program aktualisasi ini tetap berjalan sesuai dan meregenerasi kepada generasi selanjutnya. Demi menjalankan program ini maka sudah seharusnya pemerintah memberi ruang damai dan dukungan agar anak muda semakin antusias serta berkomitmen tinggi untuk kembali membenahi beragam konflik ekonomi, sosial, pendidikan, kriminal sampai pemerintahan sesuai dengan jawaban solutif dari Pancasila.  Maka, solusi dari beragam konflik yang terjadi sebenarnya telah dirumuskan oleh para pahlawan kemerdekaan dan aktualisasi pancasila adalah jawaban solutif dari masa lalu untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Editor: Bennartho Denys

Share this post

Comment (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.