Crab Mentality, Perasaan Iri dengan Orang lain

https://www.canva.com/design/DAEkeGQQqws/c0Vn607SGLY_oDb29k03Pw/view?utm_content=DAEkeGQQqws&utm_campaign=designshare&utm_medium=link&utm_source=homepage_design_menu

Crab Mentality, Perasaan Iri dengan Orang lain

Pernahkah kita yang tidak pernah merasakan perasaan iri? Fenomena Rasa iri adalah fenomena yang seringkali menghampiri kehidupan manusia. Pada hakikatnya manusia tidak akan memiliki rasa puas terhadap sesuatu yang mereka miliki .Hal tersebut merupakan definisi dari crab mentality, tidak senang dengan pencapaian orang lain dan berupaya untuk menjatuhkannya. Nah Bagaimana sih cara mencegah hal tersebut terjadi ? yuk simak blog berikut ini.

Apa Itu Crab Mentality

Crab Mentality
crab-mentality-text.png

Coba bayangkan kalau beberapa kepiting berusaha masuk dalam satu ember apa yang akan terjadi?.

Ketika ada kepiting yang mencoba merangkak naik, kemudian akan selalu ada kepiting lainnya yang mencapit temannya untuk turun. Seakan akan tidak merek tidak mengizinkan kepiting lainnya untuk ikut naik. Oleh karena itu banyak orang mengatakan “jangan punya mental seperti kepiting”. Mereka ingin kalau diri mereka gagal orang lain juga harus ikut gagal bersamanya. Pada akhirnya “kalau saya tidak dapat memilikinya, maka andapun juga tidak bisa”.

Crab Mentality adalah Perilaku seseorang yang menghalangi kesuksesaan orang lain. Akan tetapi bukan cuma perkara rasa iri, tetapi juga ada usaha untuk menarik teman kita turun dan jatuh. Seseorang yang memiliki crab mentality ini, mereka tidak menyukai kalau temannya mengalami keberhasilan. “Jangan sampai dia berhasil sedangkan saya tidak”. Orang yang memiliki mental seperti kepiting biasanya mereka tidak suka kalau orang lain memiliki pencapaian yang lebih bagus darinya.

Coba pikirkan kembali apakah aku sendiri memiliki crab mentality?.

Siapa Saja Yang Bisa Terdampak?

Seseorang yang memiliki Crab mentality biasanya memiliki fixed mindset. Fixed Mindset People, merasa tidak bisa mengubahkarakter intelegensi dan kreativitas yang mereka miliki. Mereka akan cenderung menghindari tantangan, mudah menyerah, merasa tidak berguna, mengabaikan feedback dan merasa tertekan akan kesuksesaan orang lain. Oleh karena itu mereka seringkali memiliki mindset ‘daripada berusaha lebih, mereka lebih memilih untuk menghalangi kesuksesaan orang – orang yang sudah mau mencapai  kesuksesaan’. Selanjutnya ketika ada seseorang meminta mereka akan cenderung mengatakan : “Aku mah ga bisa, aku mah ga berani, ah udahlah nyerah aja”. Ketika ada seseorang memberikan saran sedikit saja pasti akan langsung mengatakan :“ah udahlah ga usah dengerin.

Misalnya ada seseorang yang manawarinya sebagai seorang mc “Eh kamu coba ya jadi mc ya?” . “Ah, engga deh public speaking aku kurang bagus”.“Pokoknya engga bisa, ga bisa, ga bisa”.

Terkadang mereka merasa bahwa ketika saat ini mereka belum memiliki public speaking yang bagus maka 10 tahun ke depanpun juga tidak akan bisa. Orang semacam ini tidak bisa mengubah fixed mindset yang mereka miliki. Mereka berpikir seakan tidak bisa mengembangkan kemampuannya di masa depan, dan memberikan limit terhadap kemampuan mereka miliki.

Inilah Faktor Penyebabnya

  1. Sifat Kompetitif  yang tidak sehat.

Sifat Kompetitif itu terbagi menjadi dua yaitu kompetisi yang sehat dan kompetisi yang tidak sehat. Kompetisi yang sehat itu misalnya piala dunia, Olympic tokyo dsb. Sedangkan kompetisi yang tidak sehat itu kalau kita menjatuhkan orang lain untuk mencapai kesuksesaan . Semua orang boleh memiliki ambisi karena hal tersebut bisa membuat sesorang maju, tetapi jangan sampai  karena ambisi tersebut kita menginjak orang lain.

2. Rasa Percaya diri yang rendah.

Secara tidak sadar, beberapa kita sering mengatakan “ah, aku mah cuma remah-remah rengginang” Secara tidak langsung sesorang yang seperti ini berpikir bahwa mereka tidak akan bisa, sehingga orang lainpun juga tidak akan bisa.

3. Ketergantungan dalam kelompok.

Hal ini bisa seseorang alami ketika mereka terus menerus bergantung terhadap kelompoknya. Ketika sesorang yang suka bekerja dalam kelompok biasanya tidak senang kaalu ada orang maju dan menjadi lebih baik,

“Kok dia maju duluan, kan harusnya kita maju bersama sama”. Secara tidak langsung hal ini akan membentuk pola pikir “sukses ga sukses yang penting kita kerja sama terus“.

4. Iri hati dengan cara yang salah

Memiliki emosi iri itu boleh dan wajar. Emosi iri ini terjadi karena orang lain memiliki sesuatu yang kita inginkan, tetapi kita tidak memilikinya. Sebenarnya, hal ini bertujuan untuk membuat kita berfokus untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Emosi iri itu terkadang memberikan Bio Feedback atau sebagai peringatan di dalam tubuh kita

Ketika sebuah emosi itu muncul dalam diri kita, emosi itu tidaklah salah, emosi itu memberikan pesan dan peringatan kepada tubuh kita untuk melakukan tindakannya, sehingga kita bukan fokus ke emosinya melainkan solusi dari pesan tersebut.

BACA JUGA : https://dutadamaiyogyakarta.id/tong-kosong-nyaring-bunyinya/

Bagaiamana Cara Mengatasi Perilaku Ini?

  1. Coba fokuslah untuk menguprade diri kita sendiri ( dalam diri kamu )

Setiap manusia memiliki kelebihan dan kelemahan dan kita tidak bisa mengubah hal itu. Sebagai manusia kita tidak bisa meredupkan cahaya orang lain supaya cahaya kita lebih terang, karena hal itu akan sia -sia. Akan lebih baik kalau seseorang lebih fokus kepada diri kamu sendiri supaya bisa memiliki cahaya yang terang.

2. Jangan pedulikan omongan orang lain

Kalau ada peribahasa mengatakan “Anjing menggongong pastilah berlalu”. Di dunia ini akan selalu ada sesorang yang tidak menyukai kesuksesaan kita. Akan tetapi, jangan pedulikan hal itu, tetapi fokus akan mimpi yang ingin kamu capai. Kalau kamu tahu tujuanmu dan mimpimu, kamu akan tetap fokus walaupun jalan yang kamu hadapi berliku-liku. Kamu tidak bisa mengubah orang lain, tetapi yang bisa kamu ubah adalah diri kamu sendiri.

3. Membuat lingkungan yang positif dan suportif

Pepatah mengatakan “kalau tidak mau bau amis, jangan pergi ke pasar, pergilah ke toko roti”. Kalau kita sudah tahu bahwa sesorang atau lingkungan itu toxic, segera jauhi dan tinggalkan. Carilah lingkungan yang lebih suportif dan positif yang bisa mendukungmu mencapai mimpimu.

4. Trying to see reality as it is without judgement and attachement

Emosi atau perasaan iri biasanya datang karena kita memberikan penilaian kepada orang lain.

“Dia punya 10, aku cuma punya 5 ya”. Akhirnya sesorang nantinya akan mengatakan demikian “Aduh, bodoh banget ya aku, gini aja ga bisa”. Cobalah melihat faktanya, bahwa mereka memang memiliki 10 dan kamu memiliki 5. Carilah solusi supaya kamu bisa mencapai 10 tentunya dengan cara yang baik. Ubah cara berpikir kita bahwa akan ada orang yang bisa lebih daripada kita, dan itu adalah hal yang wajar. Hal itu menjadi salah ketika kamu menyalahkan diri kamu sendiri karena kamu tidak kompeten dalam hal itu.

Pesan Damai

Di dalam hidup ini terkadang kita menjadi korban dari crab effect, tetapi kadang kita juga menjadi pelaku crab effect. Crab mentality, mungkin bisa memberikan efek senang sesaat ketika kita menjadi pelaku, namun bukan strategi yang sehat untuk mendapatkan kesuksesaan ,

Dalam hidup ini akan selalau ada comfortable dan uncomfortable aspects. Bahkan semenjak kecil, keluarga sering menuntut untuk memiliki comfortable asspects, misalnya, bisa pintar, kaya, dan memiliki banyak kesuksesaan. Akan tetapi kita semua tidak sadar bahwa untuk mencapai comfortable asspects itu juga memerlukan uncomfrotable asspects. Kalau kita terus-menerus mengaharapkan comfortable asspects di dalam hidup kita, crab mentality akan selalu ada. Mengharapkan hidup yang akan baik-baik saja terus-menerus itu hal yang mustahil. Kita hidup di dunia dan akan selalu ada sesorang yang toxic. Kita akan hidup baik-baik saja kalau lingkungan kita juga memiliki sifat baik terus-menerus.

Oleh karena itu, berhenti untuk membandingkan diri kita dengan orang lain. Ketika kita membandingkan diri kta dengan sesorang di atas kita, itu akan membuat minder. Cobalah untuk tidak membandingkan diri dengan orang yang di bawah kita supaya tidak menjadi sombong. Bandingkan diri kita saat ini dengan dirI kita di masa lalu, sehingga akan terlihat pencapaian yang kita raih dan kita bisa lebih bersyukur. Belajar punya mental kelimpahan

“walaupun aku cuma punya segini gapapa kok, aku bersyukur, kalau dia bisa sukses”

Belajar seneng kalau temennya seneng, sukses itu menambahkan sesuatu bukan mengurangi sesuatu. Jangan pernah menjadi Crab human, yang naik karena menginjak teman yang lain. Belajar untuk bisa sukses dengan cara yang menyenangkan dan tidak merugikan orang lain.

The more we develop an abudance mentality the more we genuienely happy for the sucsess well being achievements, recogniotion, and good fortune for other people

Stephen Covey

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.