Konsep Perdamaian Dalam Paradoks Damai

Konsep Perdamaian Kant

Konsep Perdamaian Dalam Paradoks Damai

Konsep Perdamaian
Banyak dari kita yang sering kali menggaungkan perdamaian sebagai bentuk kesempurnaan hidup, menganggap tatanan dan ketentraman terjalin di dalamnya. Banyak tokoh yang mengemukakan konsep tentang perdamaian, namun pada realita yang ada, perdamaian belum benar-benar tercipta sesuai konsep yang terbayangkan.

sumber gambar iphincow.com

Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman yang pendapat-pendapatnya berpengaruh pada tokoh-tokoh Jerman pada masa itu, dalam bukunya yang berjudul Zum Ewigen Frieden atau Tentang Perdamaian Abadi, merumuskan beberapa konsep tentang perdamaian dunia, menciptakan pemerintahan dunia atau yang kita kenal dengan nama Federasi Dunia (Welt federalisme).

Dalam rumusan federasi ini Kant berpandangan bahwa semua hubungan dan tatanan federasi terbentuk teratur berdasarkan hukum-hukum yang berpijak pada pemikiran akal budi dan kebebasan manusia, serta saling menghargai satu sama lain.

Konsep Perdamaian

Namun pada kenyataannya konsep dan pandangan dari Kant belum tentu bisa berhasil di semua negara. Masih belum berhasil keseluruhan untuk mencapai perdamaian. Tentu hal tersebut bukanlah hal yang mengherankan, karena setiap negara memiliki karakteristik yang unik dan berbeda sehingga tidak bisa menganggapnya sama.

Kita sering lupa dan berfokus hanya pada hal-hal yang kita inginkan saja. Kembali pada topik perdamaian, sederhananya kita terlupa bagaimana perdamaian itu bisa terjadi. Tentu perdamaian dapat muncul, saat ada suatu masalah baik pertikaian, perbedaan ataupun pertentangan yang terjadi. Sehingga saat tidak ada masalah-masalah tersebut, perdamaian tidak mungkin terjadi, karena semua hal pasti berpasangan dan berhubungan, seperti tidak bisa menyatakan baik tanpa ada buruk sebagai pembandingnya.

Banyak usulan konsep Perdamaian namun damai tidak kemudian tercipta. Seperti Perdamaian Dunia yang menjadi visi global untuk mencapai kestabilan dunia, namun masih banyak negara-negara yang terpaut konflik dan tidak kunjung reda.

Lalu apakah dapat kita sebut perdamaian itu sudah tercipta dengan baik? Atau perdamaian hanya bisa jadi milik negara-negara tertentu?

Paradoks Perdamaian

Membaca dan mengamati bagaimana paradoks perdamaian tersebut, tentu tidak ada ujungnya, karena masing-masing kepala memiliki pandangan dan konsep perdamaian yang bermacam-macam. Oleh karenanya, untuk mencapai perdamaian yang sesungguhnya justru kita harus menghilangkan konsep-konsep perdamaian dan ekspektasi yang bermacam-macam. Karena hal-hal tersebut justru menjadi penghalang akan perdamaian yang sesungguhnya.

Pada hakikatnya konsep-konsep itu tidak seharusnya mengekang. Perdamaian dan berbuat baik tidak perlu mengikuti apa yang ada saat ini. Melainkan sudah menjadi sebuah rutinitas.

Untuk memenangkan suatu perlombaan, kita tidak harus melawan dengan konsep yang bertolak belakang. Cukup bersama berdampingan dan hidup di dalamnya. Belajar untuk menciptakan perdamaian secara internal, dengan begitu perdamaian eksternal akan tercipta sebagaimana pandangan kita melihat dunia.

Share this post

Comments (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.