Thanos VS Tony Stark: Jalan Yang Kita Pilih

Thanos

Thanos VS Tony Stark: Jalan Yang Kita Pilih

Sumber: https://www.google.com/amp/s/m.timesofindia.com/entertainment/english/hollywood/heres-why-tony-stark-and-thanos-are-similar/amp_articleshow/64684598.cms

Nostalgia Film Avengers

Thanos, siapa tidak kenal sosok ini? Namanya sempat menggemparkan jagad. Hampir semua portal mengulas tentangnya. Apakah kamu penggemar film Avengers? Masih ingat rangkaian film Avengers yang berjudul Infinity War (2018) dan End game (2019)? Pada kesempatan ini, mari bernostalgia pada kedua film tersebut. Ada banyak tokoh keren dalam film Avengers, namun kita hanya akan fokus membahas dua tokoh, yaitu Thanos dan Tony Stark.

Pada film Infinity War, Thanos berambisi untuk mengumpulkan keenam batu abadi yang tersebar di berbagai tempat. Setiap batu memiliki kekuatan tersendiri sehingga tidak sembarang orang bisa mendapatkannya. Jika sudah mempunyai keenam batu, Thanos bisa menjadi penguasa semesta.

Thanos kemudian berniat menghilangkan separuh populasi semesta karena ia percaya hal itu bisa membuat kehidupan lebih sejahtera. Singkat cerita, ia berhasil mewujudkan keinginannya dengan mengorbankan segala hal, termasuk anak angkat kesayangannya, Gamora.

Baca juga Isra Mikraj dan Ihwal Kebohongan

Awalnya Thanos berpikir setelah ia menghilangkan setengah penduduk semesta, kehidupan dapat menjadi sejahtera. Namun pada kenyataanya, setengah populasi yang masih tersisa malah merasa kehilangan, bahkan sudah tidak mempunyai semangat hidup karena berpisah dengan orang terkasih.

Akhirnya, Avengers yang tersisa berkumpul dan menyusun strategi untuk memperbaiki kekacauan yang terjadi. Akhir cerita “End Game”, Tony Stark memilih untuk mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan semesta. Ia memakai sarung tangan yang berisi enam batu abadi dan melenyapkan Thanos beserta para prajurit dan senjatanya.

Jalan Pikir Thanos VS Tony Stark

Dapat kita lihat bersama, antara Thanos dan Tony Stark mempunyai niat yang bagus, namun mereka berdua memilah dan memilih cara yang berbeda untuk mencapai tujuannya. Thanos ingin mensejahterakan semesta dengan menghilangkan setengah populasinya. Sedangkan Tony Stark beserta Avenger yang lainnya ingin memulihkan tatanan alam semesta dengan mengembalikan setengah populasi yang telah lenyap karena ulah Thanos.

Dari dua tokoh tersebut, kita bisa belajar bahwa bisa jadi semua orang mempunyai niat dan tujuan yang mulia. Namun, terkadang ada pihak yang memilih cara yang kurang benar untuk merealisasikan tujuannya.

Indonesia mengakui ada enam agama, yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Bagi seorang penganut agama Islam, apapun golongannya, ia mempunyai tujuan mendekatkan diri pada Allah. Begitu pun dengan penganut agama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Mereka juga ingin lebih dekat dengan sosok yang mereka sembah.

Populasi penganut agama terbanyak di Indonesia adalah agama Islam. Akan tetapi, berita buruknya kita terkadang masih mendengar tentang sikap intoleransi seorang muslim kepada non muslim. Misalnya, peristiwa bom bunuh diri di gereja Surabaya pada Mei 2018.

Memilih Langkah Demi Tujuan

Pelaku bom bunuh diri ada kemungkinan mempunyai tujuan yang baik menurut pribadinya sendiri, namun ternyata langkah yang dipilih olehnya berakibat buruk bagi korban peristiwa tersebut. Ini sama halnya dengan langkah yang dipilih Thanos.

Sekarang kita renungkan, apakah tindakan yang dilakukan pelaku bom bunuh diri adalah tindakan yang benar? Apakah tindakan ini akan mendekatkan diri kepada Sang Pencita? Atau malah menjauhkan darinya?

Dalam QS. Al-Anfal ayat 46 dijelaskan bahwa saat terjadi perbedaan pendapat, prinsip yang dipegang teguh adalah persatuan dan solidaritas umat. Bunyi ayatnya sebagai berikut:

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ

Artinya: “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar.”

Berbeda keyakinan itu wajar. Berbeda pendapat itu juga wajar. Namun, jika perbedaan keyakinan dan pendapat itu mengakibatkan perselisihan, itu yang tidak wajar. Setiap penganut agama, berhak untuk meyakini agamanya masing-masing.

Di sisi lain, kita harus menghargai keyakinan orang lain yang berbeda dengannya. Ayat di atas menerangkan bahwa ketika terjadi perselisihan dianjurkan memilih sikap untuk bersabar. Dengan meyakini keyakinan diri sendiri serta menghargai keyakinan orang lain, sila ke-3 Pancasila, “Persatuan Indonesia” bisa terwujud.

Share this post

Comment (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *