Ajaran Nabi Spirit Mencabut Akar Radikalisme

Isra Mikraj

Ajaran Nabi Spirit Mencabut Akar Radikalisme

Tahun Kesedihan Nabi Muhammad

Nabi Muhammad pernah dalam tahap Aamul Huzni yaitu tahun dukacita. Mula-mula meninggalnya sosok paman yang selalu mengayomi, berperan sebagai pelindung dan juga pengasuh sejak kecil. Luka dan sedih atas kepergiaan paman kesatrianya belum sembuh, satu bulan lima hari kemudian Nabi kehilangan Sayyidah Khadijah. Seorang perempuan yang berjuang mati-matian, mengorbankan semua harta benda dan penuh kasih sayang pada Nabi Muhammad.

Kesedihan yang melanda Nabi Muhammad begitu dahsyat, tidak ada tempat mengadu dan berbagi segala persoalan yang menimpanya. Lalu Allah membuka satu gerbang yang sering kita sebut dengan Isra Mikraj untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya dan menghibur Nabi Muhammad. Dalam peristiwa Isra Mikraj ada kejadian yang mencengangkan, yaitu pembedahan dada (syaqq al-shadr). Peristiwa ini merupakan simbol pembersihan hati dari nasfu buruk dan kotor.

Isra Mikraj merupakan satu peristiwa luar biasa dalam sejarah Islam. Perjalanan Nabi Muhammad dari bumi ke langit dan kembali ke bumi hanya dalam rentang waktu satu malam. Berangkat dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dengan misi mempererat hubungan horizontal. Kemudian dari Masjidil Haram ke Sidratul Muntaha (langit tinggi), suatu perjalanan yang titik tekannya pada spiritual dan cinta kasih Allah.

Isra Mikraj

asntas apa yang kita dapatkan dari rentetan peristiwa di atas? Apa hanya perayaan tahunan dengan ceramah di panggung dan cerita-cerita keheroikan kejadian Isra Mikraj?

Islam dan Radikalisme

Mari kita baca ulang sejarah Islam, terutama perihal Isra Mikraj. Lebih-lebih dalam menyikapi satu perubahan besar dalam pola keberagamaan kita akhir-akhir ini. Gejala yang timbul dari kedangkalan pola pikir dan pemahaman atas sejarah dan nilai-nilai keislaman berdampak terhadap realitas kehidupan masyarakat baik skala kecil dan besar. Salah satu contohnya adalah suburnya fanatisme agama, klaim kebenaran tunggal pada kelompok sendiri, memberi cap kafir dan sesat bila ada orang yang tidak sama dengan almamaternya. Bahkan bertambah bumbu dengan berita hoax di media sosial dan radikalisme di ruang publik.

Nuhrison M. Nuh mengutip Azyumardi Azra dalam buku Peranan Pesantren dalam Mengembangkan Budaya Damai (2010), mengatakan bahwa radikalisme berasal dari kata radikal, tolok ukurnya kepada keadaan, orang, dan suatu gerakan yang mempunyai keinginan terhadap perubahan sosial dan politik baik secara cepat dan menyeluruh, bahkan tidak jarang melalui pintu kekerasan, tidak ada kerjasama dan justru mengabaikan cara-cara yang penuh kedamaian.

Baca Juga Isra Mikraj Dan Ihwal Kebohongan

Namun ketika kita lihat dari perspektif keagamaan radikalisme sebagai suatu paham keagamaan yang titik tekannya sebatas hanya pengetahuan di permukaan, pemahaman pada agama begitu mendasar dan penuh fanatisme yang menggebu-gebu. Dari hal inilah sikap menyalahkan kelompok lain, melakukan kekerasan atas nama keyakinan sendiri dan kecenderungan untuk meremehkan keyakinan orang lain. Fenomena macam ini cenderung memahami agama hanya sepintas dari teks tanpa peduli konteks bahkan tidak mampu mentransformasikan nilai-nilai agama ke ranah sosial.

Radikalisme Terorisme di Indonesia Bukan Ajaran Nabi

Untuk menyikapi kesuburan radikalisme di Indonesia, perlu adanya pemahaman yang mapan terhadap nilai-nilai pancasila dan kebangsaan, bahkan juga terhadap ajaran agama dan sejarahnya. Kembali ke awal bahwa peristiwa Isra Mikraj adalah sebagai misi dari Nabi Muhammad untuk membumikan ajaran agama, dalam artian ajaran agama bisa menjawab persoalan yang ada di bumi.

Untuk memutus rantai radikalisme, saya akan meminjam pikiran Kuntowijoyo dalam bangunan Ilmu Sosial Profetiknya, bahwa untuk memahami realitas sosial kita perlu telaah atas al-qur’an atau teks agama. Dalam hal ini, Kuntowijoyo menawarkan tiga sudut pandang: humanisasi, liberasi dan transendensi. Humanisasi merupakan kepekaan atas gejala kemanusiaan, humanisasi mempunyai arti memanusiakan manusia, melepas kebendaan, ketergantungan, kekerasan dan kebencian dari manusia. Selalu menyuarakan kebaikan atas nama agama ataupun kebangsaan.

Liberasi yang ditawarkan Kuntowijoyo dalam konteks ilmu sosial yang mempunyai andil besar terhadap pembebasan manusia dari kekejaman dominasi ruang, kekuasaan, politik, kemiskinan, dilema kesadaran, dan belenggu atas nama agama dan keyakinan. Pembebasan dari kebodohan dan paham radikalisme perlu mendapat perhatian secara khusus di sini. Terakhir adalah transendensi, dua aspek di atas harus mengacu pada pemahaman yang sifatnya transendental. Hari ini kita berada dalam kepungan kebudayaan yang begitu hedonis, konsumeris dan lebih-lebih juga budaya keberagamaan yang egosentris.

Maka perlu untuk kembali percaya terhadap sesuatu yang ada di luar kekuatan manusia, mencari jalan membersihkan diri dengan cara menghadirkan dimensi transendental yang menjadi hal pokok sebagai fitrah manusia. Dengan upaya begitu, setidaknya bisa mencegah banjir radikalisme di Indonesia meski hanya sebagian kecil saja. Sehingga apa yang kita yakini sebagai Islam rahmatan lil ‘alamin benar-benar menyentuh siapa pun di dunia.

Share this post

Comment (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.