Mengulas Makna Masjid Pathok Negoro dan Spirit Keberagamaan

Masjid Pathok Negoro

Mengulas Makna Masjid Pathok Negoro dan Spirit Keberagamaan

Sesuai dengan julukan daerahnya, masjid di Yogyakarta berbeda dengan masjid di daerah lain. Masjid di sini tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana ibadah saja. Tetapi juga sebagai patok atau penyangga negara, negara yang dimaksud adalah Yogyakarta itu sendiri. Sehingga masjid ini dinamakan masjid Pathok Negoro.

Masjid adalah sebuah tempat peribadatan umat islam, yang digunakan oleh mereka yang beragama islam untuk menjalan kegiatan spiritualnya. Di Indonesia masjid dibangun dan difungsikan dengan bermacam-macam jenisnya, termasuk salah satunya yang ada di Yogyakarta ini.

Masjid ini tersebar di seluruh daerah Yogyakarta, di setiap arah mata angin sudah dapat dipastikan ada masjid Pathok Negoro. Tujuan utama pembangunan masjid ini adalah untuk melakukan kontrol batas-batas spiritual keraton atas daerah-daerah kekuasaannya.

MASJID PATHOK NEGORO

Masjid Pathok Negoro
Photo via: Kemendikbud RI

Data yang disajikan dalam tulisan ini bersumber dari obsevasi lapangan, wawancara dengan salah seorang warga yang bernama mbah Abbad Ikhwan, beberapa obrolan warga yang tidak sengaja terdengar, dan beberapa referensi dari artikel di internet.

Raden Sandiyo seseorang keturunan bangsawan keraton yang mendirikan Masjid pathok negoro Mlangi, yang oleh masyarakat Mlangi akrab dengan julukan Mbah Kyai Nur Iman. Beliau adalah keturunan asli keraton Yogyakarta yang berasal dari ayahnya yaitu Raden Suryo.

Mbah Nur Iman sejak kecil mendapat didikan dan dibesarkan di lingkungan pesantren oleh ayahnya, pondok pesantren Gedahan Surabaya menjadi saksi bisu perjalanan hidup mbah Nur Iman kecil sampai beranjak dewasa.

Setelah beliau sudah beranjak dewasa, dipanggilah beliau untuk pulang ke Mataram, pihak kerajaan Mataram mengutus beberapa prajurit untuk menjemput mbah Nur Iman, akan tetapi beliau tidak mau di jemput, dan beliau menyampaikan pesan bahwasannya belaiu akan pulang sendiri.

LATAR SEJARAH MASJID

Maksud sang ayahanda memanggil Mbah Nur Iman ke Mataram karena keinginannya untuk menjadikannya sebagai raja penerus kepemimpinan. Tetapi beliau menolak perintah sang ayah dan lebih memilih menyebarkan Islam kepada masyarakat. Akibat dari penolakan tersebut, kemudian majulah Sultan Hamengkubuwono I sebagi Raja.

Raden Sandiyo kemudian mengajak kedua temannya untuk bersama-sama dengan belaiu menyebarkan Islam. Mereka berjalan ke arah barat menuju suatu daerah yang kini dikenal dengan daerah Kulon Progo, beliau mulai menyebarkan Islam di sana dan disambut senang oleh warga setempat.

Sesudahnya, beliau kembali melanjutkan perjalanan dan sampailah di suatu tempat persinggahan selanjutnya. “Tanah kene iki nek di delok meleng-meleng tur yo wangi” jadi kemudian tempat ini dinamakan Mlabgi, selain itu asal mula nama ini juga diambil dari awalan kata mulangi, yang artinya mengajarkan islam kepada masyarakat.

Beberapa waktu berlalu, keberadaan Raden Sandiyo ini mulai tercium oleh pihak kerajaan, sehingga diutuslah beberapa orang untuk menemuinya, sesampainya di sana utusan kerajaan itupun berusaha membujuk sang Raden untuk pulang ke kerajaan atau kraton, akan tetapi Raden Sandiyo masih tetap kekeh tidak mau pulang,

Pada akhirnya dibuatkanlah masjid oleh pihak kraton di daerah tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal masjid Patok Negoro Mlangi. Selain itu beliau juga diberi satu padukuhan yang sekarang menjadi temapt tinggal warga Mlangi. Dan untuk menyatukan daerah tersebut Raden Sandiyo membaginya menjadi dua Kawasan yaitu Mlangi Lor dan Mlangi Kidul.

STRUKTUR SOSIAL DAN BANGUNAN MASJID

Masjid Patok Negoro Mlangi sendiri tidak mempunyai struktur ketakmiran. Yang jelas semua pengurusnya adalah seluruh tokoh masyarakat yang ada di sana, dan dalam kepengurusan ini tidak terbatas oleh waktu dan umur, selama dia masih sanggup, maka dia akan menjadi pengurus, kecuali dia melanggar aturan maka dia berhak untuk diberhentikan.

Masjid Patok Negoro Mlangi mempunyai struktur bangunan yang luas, terdiri dari gapura sebagi gerbang pintu ,masuk kemudian terdapat halaman-halaman. Ada juga dua gazebo atau pendopo kecil yang terletak di samping kanan dan kirinya.

Selain itu, di dalam kawasan masjid juga terdapat dua makam, yaitu makam untuk warga sekitar dan yang kedua adalah makam Mbah Nur Iman yang merupakan tokoh yang berjasa dalam penyebaran islam didaerah tersebut dan juga merupakan pendiri masjid Patok Negoro Mlangi.

Makam beliau berada di depan masjid, dan setiap malam jum’at sampai minggu biasanya banyak di datangi oleh para peziarah.

Kegiatan di masjid Patok negoro mlangi ini tidak hanya sebatas sholat saja, tetapi ada beberapa kegiatan yang dilakukan seperti TPA/TPQ, kemudian juga ada pengajian yang dilaksanakan setiap selesai magrib, lalu juga setiap habis subuh,

BERBAGAI KEGIATAN RUTIN MASJID

“Terus ono sisan pengajian sak ben pon” ujar pengurus masjid Mlangi. Bentuk dari pengajian tersebut adalah mujahadaan atau tahlilan dan semuanya terbuka untuk umum, siapa saja boleh ikut dan hadir.

Ada yang unik di Masjid Mlangi masjid ini. Tidak ada jama’ah perempuan yang ikut sholat atau beribadah di masjid. Tidak hanya dalam itu, dalam kegiatan pengajian pun ibu-ibu atau kaum hawa Mlangi juga tidak ada yang hadir.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Kondisi ini terjadi akibat ibu-ibu di daerah tersebut biasanya lebih memilih untuk sholat berjama’ah dan mengikuti kegiatan ibadah di mushola-mushola yang ada di sekitar rumahnya. Hal ini juga karena banyaknya pondok yang berdiri di daerah tersebut.

Terhitung ada 14 pondok pesantren yang dibangun, dan konon pembangunan ini adalah salah satu cita-cita dari mbah Kyai Nur Iman sejak dahulu, yang baru bisa terwujud sekarang.

METODE ILMU NAHWU SHARAF

Seperti para tokoh terkena yang lain, Mbah Nur juga memiliki karya atau peninggalan yang sampoai saat ini masih digunakan dan diterapkan yaitu suatu metode ilmu Nahwu Sharaf hasil karangan belaiu. Metode ini berbeda dengan yang digunakan oleh pondok pesantren atau sekolah-sekolah pada umumnya.

BACA JUGA: Media Sebagai Penakar Instabilitas Pers

Dan sampai hari ini metode ini tetap digunakan dan doterapkan dilingkungan pondok pesantren daerah Mlangi. Selain itu bekiau juga berperan dalam memberikan batas wilayah antara Kraton Solo dan Kraton Yogyakarta. Patoknya adalah Candi Prambanan, “Prambanan ngulon iku keraton Yogyakarta lah sing Prambahan ngetan iku wilayahe Keraton Solo”.

Dalam sejarah Keraton, terpampang jelas nama Raden Sandiyo seperti dalam sejarah atau kisah perjanjian Giyanti. Yang mana dulu dikatakan sebagai Sultan Hamengku Buwono yang ke enol (0). Hal ini karena beliau pernah mau(akan) diangkat sebagai Sultan namun beliau memilih untuk memperjuangkan dan menyebarkan agama Islam.

Satu pelajaran penting yang bisa diambil dari Mbah Kyai nur Iman adalah kebijaksanaannya untuk lebih memilih menyebarkan islam dan mengabdi di masyarakat dari pada hidup bergemilang harta di atas tahta.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.