Pelatihan Milenial Reformis Bersama YMR YIPC

Pelatihan Milenial Reformis Bersama YMR YIPC

Pada tanggal 25-28 Maret 2021, Yayasan Mulia Raya (YMR) yang diinisiasi oleh aktivis feminis perempuan bernama Prof. Musdah Mulia mengadakan Pelatihan Milenial Reformis di Hotel Horaios Malioboro, Yogyakarta. Agenda ini bekerjasama dengan Young Interfaith Peacemaker (YIPC) Yogyakarta dan diikuti oleh 36 peserta dari berbagai latar belakang gerakan.

Milenial Reformis
Milenial Reformis

Prinsip Milenial Reformis

Pelatihan Milenial Reformis bertujuan untuk menyiapkan para generasi muslimah milenial sehingga siap menjadi influencer. Influencer dalam menyebarkan nilai perdamaian, menghalau narasi yang mengandung ujaran kebencian serta ikut mengawal perjuangan dalam menegakkan kesetaraan gender melalui pendidikan damai. Hal ini tercermin dari beberapa nilai yang menjadi prinsip milenial reformis, yaitu ketauhidan, kemanusian, kepedulian dan keteladanan serta kebangsaan.

Baca Juga Tentang Acara Duta Damai Yogyakarta

Selama empat hari pelatihan, para peserta mendapat berbagai materi, mulai dari pemahaman tentang Konsep Milenial Reformis, Pendidikan Seks dan Gender dalam Keluarga, Pencegahan Violent Extremisme Kekerasan Berbasis Agama, Metode Berpikir Kritis, Milenial Meretas Demokrasi; Rasa Kebangsaan dan Partisipasi Politik, Manajemen Konflik serta Gerakan Sosial dan Voulentarisme sebagai materi terakhir.

Prof. Musdah Mulia yang juga merupakan peneliti serta pemikir Indonesian Conference and Peace (ICRP) menjelaskan bahwa gerakan muslimah reformis merupakan gagasan tentang perempuan yang memiliki spiritualitas dan integritas moral tinggi serta berkomitmen pada penegakan nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Ia menjelaskan, sebagai seorang pemuda milenial sudah seharusnya untuk selalu menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik, positif dan juga kontruktif. Prof. Musdah juga mengajak para peserta untuk menjadi perempuan yang mandiri dan berdikari. Sebagai perempuan juga harus tegas, jangan sampai terpenjara pada kalimat yang mengandung nilai-nilai patriarkhi sehingga membelenggu ruang gerak perempuan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih berkualitas.

Berpikir Kritis Tidak Mudah Termakan Hoax

Selain memperoleh materi untuk mengisi kapasitas diri, para peserta juga mendapat pelatihan cara berpikir kritis sehingga tidak mudah termakan hoax. Kak Mila selaku pemateri metode berpikir kritis menjelaskan bahwa berpikir kritis memiliki prinsip utama. Yaitu untuk mencari kebenaran karena tidak ada kepastian pada segala hal. Dalam berpikir kritis tetap harus menggunakan rasionalitas serta sikap jujur dan benar. Selain itu, Kak Mila juga menjelaskan tentang hambatan yang sering menghadiri seseorang ketika berpikir kritis. Egosentris, sociocentris, asumsi tanpa bukti dan berpikir relatif. Kak Mila pun memberikan pesan kepada para peserta untuk terus berusaha dan belajar berpikir kritis. Dapat berpikir kritis tidak harus netral tetapi wajib punya standing point.

Milenial Reformis Yogyakarta

Di hari ketiga pelatihan, mereka melakukan field trip atau kunjungan ke Yayasan Satunama di Kabupaten Sleman. Satunama merupakan organisasi nirlaba yang fokus bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat melalui advokasi, pendampingan dan pelatihan. Setibanya di Yayasan Satunama, para peserta berkesempatan melakukan tanya jawab degan pimpinan Satunama dan berkeliling komplek sembari mengunjungi perpustakaan dan RPKJ (Rumah Pembelajaran Kesehatan Jiwa). Sebagai oleh-oleh, Satunama memberikan souvenir sebuah buku berjudul “Kepercayaan dan Pandemi” kepada seluruh peserta yang mengikuti field trip.

Setelah menjalani serangkaian kegiatan, peserta pelatihan menampilkan pentas seni dan memilih presiden sebagai koordinator regional milenial reformis Yogyakarta. Fata Nur Haliza, selaku presiden terpilih wilayah Yogyakarta memimpin peserta untuk membuat Rencana Tindak Lanjut (RTL) kegiatan. Ia mengajak kepada seluruh peserta supaya saling membantu dan terus bergerak secara kolektif guna mensukseskan agenda-agenda yang telah di rancang sekaligus sebagai wadah belajar dan penempaan diri. Gunakanlah filosofi sapu, kalau hanya selidi maka akan mudah dipatahkan, tetapi jika bersama-sama akan semakin kokoh dan kuat.

Share this post

Comments (2)

  • Ben Reply

    Berpikir kritis memang sangat diperlukan apalagi di era informasi yang serba cepat. Penggunaan nalar yang baik terkadang tidak cukup tanpa mempertimbangkan aspek inderawi dan intuitif. Beberapa permasalahan etis seringkali muncul diantaranya disebabkan setidaknya karena faktor ini. Sebab meski secara logis sudah tercapai namun aspek lain diabaikan maka akan berpotensi menimbulkan permasalahan baru. Secara keseluruhan tulisan ini patut diapresiasi.

    3 April 2021 at 2:18 pm
  • Ekstremis Dalam Kacamata Rene Descartes - Duta Damai Yogyakarta Reply

    […] BACA JUGA: Pelatihan Milenial Reformis Bersama YMR YIPC […]

    13 April 2021 at 2:20 am

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *