Cara Berdamai dengan Penolakan

Cara Berdamai dengan Penolakan

Cara Berdamai dengan Penolakan

Ketika kita mulai berpikir bagaimana cara berdamai dengan sebuah penolakan? Kamu bisa mulai belajar dari kisah salah satu filsuf Yunani bernama Diogenes.

Sudah terbiasa hidup dalam kemiskinan, Diogenes dikenal sebagai salah satu filsuf yang memiliki pandangan kuat terkait sinisme dan kebiasaannya untuk tidur di ruang publik serta meminta makanan dari orang-orang di sekitarnya.

Suatu hari dia meminta makanan di depan salah satu patung, lalu seseorang bertanya kepadanya “mengapa kamu melakukan hal itu?”, lalu Diogenes menjawab “untuk melatih menghadapi penolakan,”.

Bagi seorang pengemis, mendapatkan penolakan saat dirinya meminta sedikit makanan sudah merupakan bagian dari eksistensinya. Walaupun kenyataan tersebut cukup menyakitkan namun apabila dirinya tidak melakukan hal itu maka kelaparan berpotensi menghampirinya.

Maka dari itu terkadang seorang pengemis tidak terlalu memikirkan soal penolakan ketika dirinya meminta dari orang lain, sebab mereka tidak ada menganggap itu merupakan suatu masalah yang serius melainkan hanya suatu usaha untuk mendapatkan makanan.

BACA JUGA: Berkenalan Dengan Sistem AKM

Tidak Perlu Dihindari, Cobalah Mulai Berdamai dengan Penolakan

Berdamai Penolakan
Photo via: Pixabay

Seperti halnya setiap orang kebanyakan takut terhadap penolakan karena menganggap hal tersebut cukup menyakitkan untuk dirasakan. Sebagai gantinya mereka selalu menghindari setiap situasi yang berpotensi mendapatkan penolakan darinya.

Maka dari itu kebanyakan orang justru mulai menghindari untuk melamar pekerjaan yang dianggap tidak memiliki peluang besar untuk dirinya diterima. Begitu pula saat seseorang enggan untuk menyatakan cinta hanya karena takut akan konsekuensi penolakan.

Lalu ketika kita takut akan sebuah penolakan sebenarnya apa yang kita takuti itu? Apakah itu hanyalah tidak adanya pengakuan dari orang lain? lalu mengapa kita sangat peduli dengan persoalan tersebut?

Ketika kita melihat pada spesies manusia, kita sering melihat bahwa manusia sangat suka menjadi bagian dari sesuatu di luar dirinya. Misalnya kita lebih cenderung ingin menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitar kita dan bahkan kita sangat ingin menjadi bagian dari sesuatu yang dianggap lebih besar dari diri kita sendiri.

Hanya saja untuk bisa  mencapai berbagai keinginan tersebut kita juga harus mulai berkompromi untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Dengan kata lain orang lain dapat menentukan apakah kita sudah sesuai untuk bisa menjadi bagian dari mereka? Seperti halnya ketika kita masih ada di taman kanak-kanak dan bermain bersama teman-teman lainnya. Pada masa itu kita sudah mulai memutuskan untuk bergabung dan bermain bersama teman-teman lainnya, sampai pada akhirnya seorang anak yang dianggap populer sudah mulai memilih hanya beberapa teman yang dianggap cocok dengannya.

Sama halnya seperti sebuah perusahaan yang memutuskan apakah seseorang dapat cocok untuk bekerja di perusahaannya? Ataupun seseorang yang dianggap sudah cocok untuk dipilih menjadi pasangan hidup? Dengan kata lain setiap keinginan yang memerlukan suatu pengakuan dari orang lain pasti akan ada selalu potensi untuk menerima sebuah penolakan.

BACA JUGA: Al Qur’an dan Hadits Tentang Muamalah

Suatu Penolakan Tidak Selalu Masuk Akal

Penolakan
Photo via: Pixabay

Banyak yang mengira bahwa sebuah penolakan selalu berbasis pada logika dan argumentasi, namun pada kenyataannya tidak selalu begitu. Terkadang sebuah penolakan juga datang dari ketidakadilan seperti misalnya seseorang menolak kita hanya karena gaya berpakaian atau latar belakang keluarga. Jadi selalu akan ada sebuah kemungkinan bahwa orang lain pun akan menolak kita hanya berdasarkan penampilan atau hal-hal yang tidak rasional lainnya.

Akan tetapi menurut Schopenhauer ternyata kita telah membuat suatu kesalahan ketika menganggap sebuah penolakan karena berbagai hal tidak rasional itu sesuatu yang serius.

“Apa yang terjadi dalam kesadaran orang lain adalah masalah ketidakpedulian kepada kita, dan pada waktunya kita menjadi benar-benar acuh tak acuh terhadapnya, ketika kita melihat betapa dangkal dan sia-sianya pemikiran kebanyakan orang, betapa sempitnya ide-ide mereka, betapa jahatnya perasaan mereka,

Betapa sesatnya pendapat mereka, dan betapa banyak kesalahan yang ada di sebagian besar dari mereka, ketika kita belajar dari pengalaman dengan depresiasi, apa yang akan dibicarakan seseorang tentang sesamanya, ketika dia tidak wajib takut padanya, atau berpikir bahwa apa yang dia katakan tidak akan terjadi. datang ke telinganya

Dan jika kita pernah memiliki kesempatan untuk melihat bagaimana orang-orang terhebat akan bertemu dengan apapun kecuali setengah lusin orang bodoh, kita akan memahami bahwa memberi nilai besar pada apa yang dikatakan orang lain berarti memberi mereka terlalu banyak kehormatan.” (Dikutip dari bab 4 buku berjudul “Wisdom of Life” karya Arthur Schopenhauer).

BACA JUGA: Seksinya Angkringan Jogja

Kendalikan Diri & Kurangi Ekspektasi Terhadap Dunia

Ekspektasi Dunia
Photo via: Pixabay

Penolakan sebenarnya tidak selalu datang dari alasan yang masuk akal, melainkan memang seringkali hanya datang dari pendapat orang lain yang cenderung bodoh. Maka dari itu seorang filsuf Stoa bernama Epictetus pernah menjelaskan bahwa sebaiknya kita lebih berhati-hati dalam hal menentukan keinginan dan ketidaksukaan. Sehingga kita bisa lebih menerima keadaan sebagaimana mestinya daripada mengharapkan sesuatu yang tidak bisa kita kuasai.

Dengan kata lain sangat penting untuk mengurangi ekspektasi terhadap dunia terutama yang berada di luar jangkauan kita. Melalui cara inilah maka kita akan lebih bisa mencintai takdir seperti dalam istilah yang dikemukakan oleh Nietzsche yaitu “Amorfati” (Cinta terhadap takdir).

Kesadaran akan keinginan diri yang tidak ditentukan oleh keputusan atau pilihan orang lain memang menjadi salah satu hal yang pernah dijelaskan secara baik oleh Epictetus dalam karyanya “Enchiridion (28)”.

“Jika seseorang menempatkan Anda dalam rantai dan menempatkan Anda dalam tahanan, Anda akan marah. Tetapi jika Anda memberikan kendali atas milik Anda kepada orang lain yang sebenarnya tidak menyukai Anda, justru membuat Anda merasa resah, bukankah Anda seharusnya malu akan hal itu?” tulisnya.

Bisa jadi sebetulnya karena suatu penolakan itulah kita akan mendapatkan jalan untuk menemukan jati diri yang sebenarnya. Dengan kata lain kita juga secara tidak langsung sudah dijauhkan dari berbagai hal yang justru berpotensi untuk menciptakan rasa sakit di kemudian hari. Maka dari itulah sebaiknya memang kita perlu menerima penolakan sebagai suatu jalan untuk menentukan langkah yang lebih baik dan tentunya menciptakan keunikan dari nasib kita sendiri.

Share this post

Comments (4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.