Skill Dan Network Dalam Berorganisasi

Skill dan network, dua hal yang tidak asing dalam dunia organisasi. Membangun logika berkomunitas, sama pentingnya melaksanakan program kerja. Landasan filosofis sebagai pelaku komunal harus dibentuk. Seperti mengetahui tujuan komunitas dan strategi memahami berlaku komunal. Pastinya setiap organisasi maupun komunitas memiliki tujuan dan menerapkan strategi untuk melancarkan pelaksanaan program kerja.

Skill dan network

Posisi skill dan network haruslah memiliki kedudukan yang seimbang. Dua-duanya harus ada dan terpenuhi dalam berorganisasi. Karena skill tanpa network hanya jadi wacana, network tanpa skill hanya akan jadi panggung sandiwara.

Oleh karena itu, setiap pelaku organisasi penggerak, seperti peacemaker, organisasi kepemudaan, dan bahkan organisasi kemasyarakatan harus memiliki dua variabel pokok tersebut, yaitu skill dan network.

Setidaknya ada dua dasar yang harus ada sebagai pelaku komunal. Pertama, mengasah skill dengan terus menerus (active learning), sehingga menemukan fashionnya untuk berkontribusi dalam bidang-bidang strategis.

Kedua, hal yang juga sangat tidak kalah penting adalah network (information power). Sebagai pelaku komunal, person yang menerpa diri dalam berkomunitas akan dapat untung dengan melimpahnya relasi. Baik yang berdampak secara esoterik maupun secara eksoterik.

Tumpang Tindih Skill Network

Lalu di mana posisi peacemaker?

Peacemaker seperti Duta Damai Yogyakarta atau Duta Damai RI memiliki orientasi yang sangat jelas, terkait posisi yang harus dilakukan. Yaitu menyebarkan perdamaian. Baik secara langsung dengan sikap dan perilaku, maupun dalam bentuk ekspresi seperti melibatkan diri mengisi di media sosial.

Konsep damai sangat luas. Secara etimologi bisa bermakna dengan tidak adanya peperangan, permusuhan, tenteram, tenang dan semuanya dapat tuntas dengan cara etis. Secara terminologi dapat berarti damai sebagai sikap kedewasaan. Baik kedewasaan berpikir, bersikap dan berbudi luhur.

Konsep Kedewasaan

Tanda dewasa dalam berpikir adalah dengan cara berpikir yang inklusif. Tanda dewasa dalam besikap dengan adanya kepedulian terhadap sesama. Sementara salah satu tanda dewasa dimensi etika (berbudi luhur) dengan adanya sifat pemaaf dan tidak merasa benarnya sendiri. Sehingga, apabila konsep kedewasaan tersebut mampu menjadi prinsip, maka cita-cita perdamaian itu akan menjadi konstruk dengan sendirinya.

Related Post

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *