Perempuan Dukung Perempuan Saatnya Bergerak

Feminisme dan Pergerakannya

Sebelum kata feminisme hadir pertama kali oleh seorang aktifis sosial utopis bernama Charles Fourier pada tahun 1837, perempuan sudah menjadi bahan pembicaraan yang menarik meski saat itu situasi dan kondisi tidak berpihak pada mereka. Pergerakan perempuan yang berpusat di Eropa dan Amerika ini menjadi tanda lahirnya feminisme gelombang pertama pasca publikasi karya John Stuart Mill tahun 1869 yang berjudul The Subjection of Women. Dalam Bahasa Indonesia dapat kita artikan Perempuan sebagai Subyek.

“Apapun statusnya, setiap perempuan adalah individu bermakna”-Perempuan Berkisah-

Pada mulanya, Gerakan ini bertujuan mengakhiri masa pemasungan terhadap kebebasan kaum hawa yang terus termarjinalkan, mengalami subordinari dan menjadi pihak nomor dua dalam berbagai bidang kehidupan. Hingga akhirnya tahun 1908, para perempuan melakukan aksi perdamaian secara masif dan luas. Mereka mengangkat isu-isu ketimpangan yang mereka alami dan menuntut adanya perubahan menuju keadilan dan kesetaraan. Saat itu, bisa kita bayangkan, 15.000 perempuan dengan gagah berani melakukan longmarch menembus kota New York guna menuntut jam kerja yang lebih pendek, gaji yang lebih baik dan mendapat hak pilih.

Perempuan Indonesia
Perempuan Dukung Perempuan bukan sekadar jargon

International Womens Day

Perjuangan kaum hawa dalam pemenuhan hak-haknya mengalami situasi yang beragam dan tidak mudah. Hingga pasca penerimaan keputusan dari konferensi di Copenhage tahun 1911 akhirnya memutuskan adanya International Women’s Day (IWD). Gelaran perayaan ini pertama kali oleh negara Australia, Denmark, German dan Switzerland pada tanggal 19 Maret.

Baca juga Najwa Shihab dan Ruang Kritik Indonesia

Tahun 1917, seorang perempuan Rusia melakukan demonstrasi pada tanggal 23 Februari (menurut kalender Gregorian bertepatan dengan tanggal 8 Maret) sebagai respon tewasnya 2 juta tentara Rusia di medan perang. Aksi ini juga menuntut pemenuhan hak-hak kaumnya. Terutama dalam pemenuhan hak suara di ruang publik. Melalui aksi ini, akhirnya Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menetapkan bahwa tahun 1975 sebagai “Tahun Perempuan Internasional” atau IWD dan diperingati setiap tanggal 8 Maret. Keputusan ini lahir setelah melalui banyak sejarah dan konferensi yang melibatkan berbagai pihak pada saat itu.

Perempuan Berhak Bicara

Setiap tahun di tanggal 8 Maret kita akan memperingati “Hari Perempuan Internasional”, lalu bagaimana kenyataan relasi kita terhadap sesama perempuan? Bukankah ini menjadi satu hal yang semestinya menjadi perhatian bersama ditengah hingar bingar isu feminisme yang dikawal oleh lembaga maupun komunitas? Pernahkah mendengar “teriakan” atau slogan Perempuan Dukung Perempuan, Women Supporting Women, atau Puan Bela Puan dan sejenisnya?

IWD tahun 2021, mengajak untuk merefleksikan diri akan hal itu. Apalagi di tengah situasi yang kurang baik-baik saja khususnya di negara Indonesia. Kita tentu ketahui bersama bahwa awal tahun 2021 Indonesia mengalami berbagai bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gempa dan lain sebagainya. Belum lagi kecelakaan pesawat terbang Sriwijaya Air SJ-182 pada hari Sabtu tanggal 9 Januari hingga menewaskan 47 korban jiwa. Pandemi covid-19 yang tak kunjung usai hingga meningkatnya kasus pelecehan dan pemerkosaan yang marak terjadi. Pernahkan kita memikirkan para korban khususnya anak-anak dan para perempuan yang terdesak dan mengalami kekurangan?

Bukan Sekadar Jargon

Perempuan dukung perempuan bukan sekedar jargon atau slogan yang hanya untuk eksistensi semata. Kalimat ini memiliki makna yang mendalam. Sebagai sesama perempuan yang sama-sama memperjuangkan kesetaraan kaumnya sudah semestinya untuk saling dukung, saling jaga, saling hormat dan saling menghargai dalam situasi dan kondisi apapun. Hubungan yang tercipta semestinya menuju hubungan kesalingan yang membawa kemanfaatan baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Kalis Mardiasih, seorang penulis dan penggerak feminis pernah meluruskan makna women supporting women dalam esainya. Dia mengatakan bahwa perempuan yang memiliki kesadaran sebagai kelompok yang menduduki posisi rentan mesti harus saling mendukung dan menguatkan kelompok rentan lainnya. Kesadaran dalam hal ini memiliki potensi untuk dapat saling memahami pengalaman biologis maupun sosial yang dialami oleh sesama. Kenapa? Karena kita sama-sama mengalami situasi yang sama. Secara biologis, mengalami menstruasi, hamil, melahirkan, nifas dan keadaan ini hanya dapat secara penuh oleh sesama kaum hawa. Begitu pula, stigma yang tercipta oleh masyarakat.

Stigma Salah Tentang Perempuan

Perempuan keluar malam identik sebagai makhluk jalang. Padahal dia keluar malam untuk mencari nafkah bagi dirinya ataupun keluarganya melalui pekerjaan yang halal dan baik. Dia terpaksa bekerja sendiri hingga larut malam karena suaminya mati atau bercerai sedangkan tidak ada pihak lain yang mampu memberikan nafkah finansial bagi dia dan mungkin saja buah hatinya. Situasi ini tidak akan mudah sepenuhnya masyarakat terima secara umum, sehingga solidaritas sesama harus saling menguatkan. Belum lagi, jika kaum hawa mengalami situasi yang termarjinalkan, mendapatkan kekerasan (violence) entah dalam rumah tangga maupun relasi pertemanan antara laki-laki wanita atau sesama. Serta mendapatkan double burden (beban ganda) ketika menjadi seorang istri atau ibu.

Pandangan patriarki di lingkar masyarakat juga tidak dapat kita abaikan. Sudah saatnya kita sesama makhluk cantik membangun kesadaran dan meningkatkan solidaritas terhadap situasi yang terjadi. Bagaimanapun situasi perempuan, dia akan tetap menjadi individu yang bermakna. Tidak pantas mendapat stigma negatif, tidak layak direndahkan dan berhak untuk menggaungkan pendapat dan suaranya. Semoga peringatan International Women’s Day tahun 2021 membawa ghiroh atau semangat yang lebih besar bagi para kaum hawa di mana pun berada. Untuk terus bergerak, belajar, berkarya dan berdaya!

Related Post

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *