Aksi Nyentrik Pak Ogah di Persimpangan Jalan Jogja

Tugu Yogyakarta

Aksi Nyentrik Pak Ogah di Persimpangan Jalan Jogja

Aksi Nyentrik Pak Ogah di Persimpangan Jalan Jogja – Padatnya wilayah Yogyakarta oleh pendatang dari berbagai kota di Indonesia membuat lalu lintas kian ramai. Hal ini memicu peningkatan kecelakaan di persimpangan jalan yang tidak memiliki lampu merah pada jam rawan. Faktanya, pengendara saling berebutan untuk menyebrang jalan maupun sekadar belok tanpa menengok dahulu.

Melihat fenomena tersebut, warga Yogyakarta yang belum memiliki pekerjaan tetap berinisiatif menjadi pahlawan penyeberang jalan yang biasa disebut “ Pak Ogah”. Seringkali istilah ini digunakan untuk mereka yang bekerja secara sukarela, menyembunyikan identitasnya dan memiliki rasa kepedulian tinggi.

Bermodal Aplikasi Google Maps di Smart Phone, mereka bisa melacak ruas – ruas jalan yang membutuhkan jasa mereka. Meskipun tidak memiliki ijin resmi atau bekerja dibawah kepolisian maupun Dishub, mereka mengenakan seragam parkir berwarna orange agar mudah dikenali. Beberapa orang mengaku sudah menjalankan profesi ini sejak 5 tahun hingga 7 tahun yang lalu. Selain untuk membantu para pengendara, penghasilan yang didapatkan cukup menjadi alasan untuk mempertahankan pekerjaan ini.

BACA JUGA: Menghidupkan Kembali Pancasila

Aksi Nyentrik Pak Ogah di Persimpangan Jalan Jogja
Pak Ali Akbar. Foto: Fajar Bagas Prakoso/Merdeka.com

Di tengah uniknya Kota Budaya Yogyakarta yang dikenal keramahannya hingga membuat siapapun nyaman berada di kota ini, Sosok Ali Akbar ramai diperbincangkan akhir – akhir ini. Penyebrang jalan yang menggunakan Galon sebagai alternatif pengganti masker cukup menarik perhatian bagi siapapun yang melewati Jalan Taman Siswa.

Tingkahnya yang nyentrik, membuat banyak orang berdatangan untuk mengabadikan foto Pak Ali saat menjalankan tugasnya. Namun, kepedulian masyarakat kepadanya tak berlangsung lama. Usai beberapa bulan viral di sosial media, orang-orang mulai menganggapnya sudah banyak uang hingga tak lagi memberi upah atas jasanya.

Berdasarkan pengakuannya ia mengungkapkan bahwa “ Dulu sehari bisa 100 sampai 150 ribu, sekarang maksimal 30 ribu perhari” . Namun baginya, ia tetap senang hati menjalankan pekerjaannya untuk membantu orang lain dan mengurangi angka kecelakaan lalu lintas.

BACA JUGA: Perdamaian di Era Global

Tidak hanya Pak Ali Galon, Jogja juga sempat diramaikan oleh Pak Ogah berseragam Gatotkaca di daerah Bantul yang menyebrangkan jalan sambil nembang lagu jawa. Melintasi jalanan Jogja yang syahdu sambil mendengar alunan musik pengamen dari angklung hingga badut bergoyang  yang bervariasi membuat siapapun jatuh cinta dengan kota ini.

Apalagi bertemu dengan beragam aksi nyentrik Pak Ogah di setiap persimpangan jalan. Tapi jangan lupa berterima kasih kepada mereka yang telah menghibur kita di jalanan. Sempatkan waktu menyediakan uang di kantong yang mudah di ambil agar kita bisa berkontribusi memberi upah kepada mereka. Agar Jogja tetap nyentrik di tengah warganya yang damai.

Editor: Bennartho Denys

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.