Posting Makanan Mengurangi Pahala Puasa

Makanan

Posting makanan di bulan puasa mendadak jadi bahan obrolan yang cukup riuh di sosial media. Awal Ramadan kemarin, netizen sempat ramai mengkritisi tentang perkara posting foto makanan di sosial media. Beberapa akun menyatakan keberatan dengan akun-akun yang sering pamer postingan makanan.

‘Tidak usah pamer foto makanan di sosial media, karena banyak saudara kita yang masih kesusahan makan’.

Kurang lebih begini redaksi yang dipakai oleh akun yang kontra dengan postingan makanan selama Ramadan ini.

Terang saja postingan seperti ini langsung dibalas dengan akun-akun yang merasa posting makanan di sosial media adalah hak pribadi pemilik akun.
‘apa salahnya posting makanan? Kalau enggak suka tinggal blokir saja, kan!”

Saya cukup lama mengikuti riuh perkara posting makanan ini. Sehingga sedikit bisa mengambil kesimpulan dan yakin mau merapat ke kubu mana. Tentu saja saya termasuk orang yang ‘i don’t care’ dengan segambreng postingan orang-orang. Bagi saya selama postingan ini menarik, bagus, bukan pemicu kerusuhan dan tidak menyalahi norma, santai saja adalah yang terbaik.
Jangankan orang posting makanan sepiring steak, posting kulkas beserta isinya saja masih wajar dan sah-sah saja. Tidak langsung membuat saya merana atau merasa menjadi makhluk yang terlampau miskin.

Lagian, untuk apa sih yang seperti ini diperdebatkan?
Apa salahnya posting makanan? Sejak kapan postingan makanan bisa mengintimidasi orang lain?
Bagaimana jika posting makanan itu karena memang kerjaan si pemilik akun adalah posting makanan? Saya misalnya, lewat Instagram sering posting makanan karena memang dapat job demikian. Ini hanya kasus kecil.
Belum lagi orang-orang yang memang harus posting makanan dengan foto paling cantik dan menggiurkan karena demi kepentingan jualan. Menurut saya ini sah dan memang sudah bagian dari marketing mereka. Lalu salahnya di mana?

Dari beberapa komentar netizen, mayoritas menertawakan dan menolak pernyataan yang bilang ‘posting makanan menambah dosa’. Ngeri juga kalau apa-apa dengan mudah dilabeli dosa.

Banyak akun masih percaya bahwa postingan makanan bukanlah ancaman keimanan. Sebagian yang lain malah bilang senang dengan adanya postingan makanan apalagi  disertai keterangan nama makanan berikut bahan baku dan cara pembuatannya.

‘Saya memang enggak sanggup makan  itu makanan malah, tapi saya tidak lantas benci lihat makanan enak. Justru seneng dan berharap kapan-kapan bisa masak seperti itu.’

Nada seperti ini banyak dilontarkan oleh para netizen yang enggak keberatan dengan hadirnya poto makanan di sosial media.

Lagian sosial media itu ranah jagat maya yang sangat luas. Untuk apa sih mengurusi hal-hal remeh? Kenapa yang beginian (posting makanan) dipermasalahkan, sementara video porno atau apalah sejenisnya malah didiamkan saja?

Perkara posting gambar makanan menurut saya adalah sebuah hiburan. Tidak sedikit dari pemosting yang berniat untuk mendokumentasikan hasil karya masaknya. Alasan yang lain ingin berbagi resep dengan temannya. Ada juga yang posting makanan karena memang ingin tapi belum kesampaian. Harapannya dengan posting begituan bisa sedikit jadi bahan ‘pelampiasan’ sesaat.

Kalau alasan pelarangan posting gambar makanan hanya demi menjaga perasaan saudara yang susah makan, agaknya terlalu berlebihan. Misal orang susah makan, benar-benar susah makan, logikanya justru tidak akan buka sosial media. Kalau ada uang mending buat makan dibandingkan buat beli kuota. Itu pikir saya dan beberapa teman yang galau dengan pelarangan posting gambar makanan.

Ada banyak tujuan seseorang dalam sekedar posting sesuatu di sosial media. Mulai dari hanya sekedar hiburan, jualan, kangen-kangenan hingga pamer. Lantas siapa kita yang sebentar-sebentar mengecap saudara sendiri dengan sebutan ‘pendosa’? Kalau postingan masih sopan, wajar dan tidak menyalahi kode etik perinternetan, buat apa dipermasalahkan?

Mau posting makanan, silakan saja. Posting ya posting saja. Lebih bagus kalau makanannya enggak hanya difoto lalu di-posting. Tapi juga makanannya dibagi kepada tetangga dekat atau teman jauh, saya misalnya. Bukankah memberi makan orang puasa diganjar pahala sama dengan orang berpuasa?

Pesan di Senyum Ceria Ramadhan, Gamal: Innovation is a result of a teamwork

Senyum Ceria Ramadan

Dokter muda Indonesia Gamal Albinsaid, memberi pesan khusus dalam talkshow inspiratif menjelang buka Bersama dalam kegiatan Senyum Ceria Ramdhan yang di selenggarakan oleh Senyum Kita Foundation di Hotel Alana, Sleman, Yogyakarta, 19 Mei 2019. Dia mengajukan klausul jangan korbankan masa mudamu dengan tidak menginspirasi orang lain.

Senyum Ceria Ramadhan

Pesan itu dia sampaikan khusus kepada para santri, yatim, difabel, dan dhuafa yang hadir sejak pukul 13.00. Menurut Gamal, sebagai manusia khususnya sebagai generasi milenial jadikan bulan Ramadhan ini sebagai momentum untuk menahan emosi, dan memberikan banyak inspirasi.

Senyum Kita Foundation

“Jangan biarkan orang meremehkan kita, dan jangan biarkan masa muda ini berlalu begitu saja”, ucapnya.

Hadirin yang mendengarnya langsung manggut-manggut. Apa yang di sampaikan Gamal sangat kontekstual dengan apa yang terjadi hari ini. Yakni, peran generasi milenial sangat diperlukan untuk menghadapai revolusi industri 4.0. Dengan karakter dimiliki generasi milenial seperti mampu memanfaatkan peluang, aktif, dan senang berinovasi diharapkan generasi ini juga mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat yang belum sejahtera.

Pria kelahiran Malang, Jawa Timur itu bahkan mengusulkan wacana yang lebih radikal lagi. “Saya saksikan mereka yang dihina oleh orang yang belum melakukan sesuatu, mampu bangkit dan merubah cacian itu sebagai motivasi dan membuktikan bahwa ia bisa berhasil.” Tuturnya

Bagi Gamal, dalam proses berinovasi kita juga akan disibukan dengan cacian dan kritikan dari berbagai pihak bahkan juga dari orang yang belum pernah berbuat sesuatu. Artinya ada titik tertentu di dalam usaha kita menebar inspirasi mendapatkan hujatan dan kritik, jadikanlan momentum tersebut untuk melakukan pendewasaan diri dan menjadikan itu motivasi untuk terus melangkah.

Keleluasaan untuk memberikan inspirasi, jika tidak di ambil oleh generasi milenial bakal sangat berbahaya di masa depan. Awalnya kemalasan untuk menebar inspirasi ini dinyatakan sebagai pilihan dalam hidup.

Pilihan yang dijatuhkan itu akhirnya berubah menjadi tindakan. Lantas meningkat menjadi perilaku. Kemudian semakin mengeras hingga menjadi karakter.

Kita tidak bisa memberikan inspirasi dalam kondisi kita tidak melakukan inovasi. Oleh karena itu, sebagai generasi milenial, kita wajib hukumnya untuk terus melakukan inovasi dan kita harus ingat bahwa inovasi tidak bisa dilakukan secara individu, melainkan inovasia dalah hasil dari kerja tim.

“You can invent alone, but you can’t innovate alone. Innovation is a result of e teamwork” tutur Gamal
Hadirin yang di dominasi santri dari 13 panti asuhan di Yogyakarta ini bertepuk tangan sebagai tanda setuju dengan pernyataan tersebut.

Di akhir pembahasan, Gamal juga menitipkan pesan kepada generasi milenial untuk selalu menghormati orang tua dan sesama.

“Satu diantara 3 amal yang Allah cintai itu anak yang berbakti sama orang tua. Satu diantara dua azab yang Allah ciptakan di dunia itu anak yang durhaka pada orang tuanya. Maka terimalah dengan ikhlas bahwa cara kita memperlakukan kedua orang tua kita itu pemberitahuan kepada Allah bagaimana Allah memperlalukan kita” ucapnya.

Kegiatan Senyum Ceria Ramadhan yang mengambil tema “Aku Milenial, Aku siap menginspirasi” ini digelar untuk berbagi kebahagian dan inspirasi bersama anak-anak yatim, difabel dan dhuafa.

“Kami ingin menunjukkan bahwa masih banyak orang baik di dunia, jika kamu tak menemukannya jadilah salah satunya.” Ucap salah satu pengurus di Senyum Kita Foundation.

Ungkapan ini tentunya tidak bisa hanyak kita jadikan pajangan di dinding sosial media semata. Kita yang mencintai Indonesia dan masyarakat di dalamnya yang terdiri dari banyak golongan, etnis dan agama perlu dengan terbuka menebarkan senyuman dan kebaikan.

Dan mereka para pejuang senyum yang ada di Yayasan Senyum Kita adalah bagian dari generasi milenial yang sedang berjuang menebar inspirasi kepada adik-adik yatim, difabel dan dhuafa.

Kamu kapan??…

Naik Level di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa yang sungguh dinantikan umat muslim, karena di bulan ini pahala ibadah kita dilipatgandakan. Diampuni semua dosa-dosa dan khilaf yang sudah dilakukan. Di bulan ini pula kesempatan bagi setiap orang untuk lebih meningkatkan ketaqwaan

Umat muslim di seluruh dunia sekarang ini sedang menjalani training dan ujian menahan rasa haus dan lapar, dengan berpuasa tidak makan dan minum dari sejak dini hari sampai dengan matahari terbenam.

Setiap hari kita terlalu disibukkan dengan urusan duniawi. Terkadang lupa bahwa kita ini ada di dunia karena ijinNya. Lupa untuk apa sebenarnya kita diciptakan. Bahkan Tuhan sampai saat ini pun tidak pernah sedetikpun meninggalkan kita.

Puasa adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik, Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Kita bisa menemukan kembali momentum, merekatkan kembali semua hal yang membuat kita menjauh untuk kembali mendekat kepadaNya. 

bulan ramadhan

Manusia sebagai makhluk paling sempurna memiliki dua aspek yaitu jasmani dan rohani. Maka, kedua aspek ini harus bisa dipenuhi agar hidup manusia itu seimbang.

Level paling bawah kebutuhan manusia adalah tentang makan. Kebutuhan untuk terus menghidupi sel-sel di dalam tubuhnya. Apabila kebutuhan biologis sudah terpenuhi maka level berikutnya adalah kasih sayang, kebutuhan akan rasa aman, ketentraman dan kenyamanan.

Level diatasnya lagi lebih tinggi dari yang hanya urusan perut yaitu kebutuhan akan eksistensi, perhatian dan pengakuan. Kebutuhan bersosialisasi dengan orang lain di lingkungan tempatnya beraktifitas.

Level tertinggi dari semua itu adalah kebutuhan sepiritual atau rohaniah. Pada tingkat ini seseorang akan merasakan ketenteraman dan kedamaian. Setiap langkahnya pasti juga akan mencerminkan apa yang dia rasakan. Siapa saja pasti merasa nyaman berada di dekat orang yang sudah mencapai level ini.

Di bulan Ramadhan ini umat Islam tidak hanya dilatih untuk tahan godaan secara fisikal, namun mampu level up dalam hal kepribadian. Mampu introspeksi atas semua yang sudah dilakukan. Memilah dan memilih dengan sudut pandang positif. Mampu memandang segala sesuatu dan semua yang terjadi dalam hidup dan orang-orang di lingkungan sekitar hanya terselenggara atas kehendakNya.  

Pengembangkan diri ini penting, hijrah dari sekedar pemenuhan jasmaniah. Kita semua diajak untuk beranjak dari tingkat jasmaniah ke tingkat yang paling tinggi, yaitu mencapai kedamaian dan ketentraman.

Tujuan diwajibkannya puasa di bulan suci ini tiada lain supaya umat muslim menjadi bertaqwa. Dengan bertambahnya ketaqwaan seseorang, pasti akan berimbas pada kehidupan sosialnya. Terutama dalam Kehidupan berbangsa dan bernegara. Lebih-lebih saat ini bangsa Indonesia sedang dihadang dengan upaya provokasi oleh segelintir orang dengan cara menyebarkan berita bohong atau hoax.

Kebiasaan menahan diri dalam kegiatan berpuasa pastilah juga mengasah kemampuan untuk lebih bijak dan cerdas dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak mudah menyakiti umat lain, tidak gampang mendiskriminasi seseorang hanya karena beda suku, ras dan agama. Itulah sejatinya makna takwa sebagai hasil dari pembersihan jiwa selama berpuasa.

Semoga ibadah puasa kita di bulan Ramadhan ini Allah memberkati, mengampuni dosa dan semua kekhilafan, Menghantar kita menjadi pribadi pribadi utama dan akhirnya menjadikan diri kita sebagai golongan muttaqien. Amin

Sutanto Prabowo

Duta Damai BNPT

Berpuasa untuk Kemanusian

Hari yang kenyang, bukanlah hari terbesar

Hari terbaik ialah hari yang diwarnai kehausan

Memang ada tujuan dan makna dalam perjalanan kita

Tapi jalan yang menuju ke sanalah yang patut dinikmati

Tujuan terbaik adalah tidur sepanjang malam

Di mana api dinyalakan dan roti dibagi secara cepat

Di tempat-tempat yang hanya dikunjungi sekali

Tidur menjadi aman dan mimpi penuh dengan nyanyian

Mari, mari! Matahari sedang menyingsing

Petualangan kita tanpa batas

Puisi penyair Swedia, Karin Boye (1900-1941) ini indah sebagai doa pengiring berpuasa. Hari yang kenyang, bukanlah hari terbesar menggambarkan kekenyangan bukanlah sesuatu yang besar atau diagungkan. Hari terbaik ialah hari yang diwarnai kehausan seperti ingin mengatakan kemuliaan seorang yang sedang berpuasa.

Dengan lapar kita merasakan tubuh yang sekian lama selalu dikenyangkan dengan ingin-ingin ragawi, baik yang dimakan atau digunakan. Ingin makan apa langsung dipesan, ingin pakai apa langsung dibeli, ingin pergi kemana langsung dikunjungi, ingin pamer apa langsung diunggah.

Saat hidup serba spontan dan tak ditahan, komunikasi antara raga dan batin terputus. Dengan “memaksa” lapar, pikiran dan batin mulai memperhatian raga yang selama ini selalu dipuaskan. Self awareness menciptakan komukasi lintas batin – pikiran – raga, saling menyeimbangkan kembali ketiganya yang mungkin pernah timpang.

Batin – pikiran – raga antar anggota keluarga menjadi kembali bersilaturahmi karena seperasaan selama bulan suci. Masing-masing mulai menahan marah dan membuka arah perbincangan. Tapi, bulan puasa juga mempersatukan umat Islam lokal, nasional, bahkan internasional karena saling berbela rasa dan bersolidaritas. (Andre Moller, Ramadan di Jawa, 2005).

Persatuan dan bela rasa dari batin ke batin merupakan sebuah keniscayaan bersama untuk menolak fundamentalisme berpikir dan beragama yang terjadi diberbagai belahan dunia di era post-truth: mengesampingkan fakta dan menerima hanya hal-hal yang menyenangkan perasaannya.

Sebab, ada kebutuhan untuk menemukan sistem politik yang tepat bagi masyarakat dalam peradaban Islam, tetapi dengan mombolak-balik literatur fundamentalisme Islam, kita menemukan bahwa pemikiran politik jarang diekspresikan di luar penegasan penyelamatan-diri bahwa tatanan Tuhan pada umumnya dipilih sebagai akternatif tatanan sekuler. (Bassam Tibi, Ancaman Fundamentalisme Rajutan Islam Politik dan Kekacauan Dunia Baru, 2000).

Profesor Bassam Tibi menilai khalifah yang dipercaya sebagai tatanan politik yang paling baik oleh sebagian umat tidak memiliki bukti yang sahih untuk dapat menjamin kehadiran tatanan yang sempurna. Bahkan negara-negara penganut sistem ini justru mengalami peperangan saudara.

Jika utopia yang ditawarkan demi kepentingan segelintir orang untuk meraih kekuasaan, hal ini sangat meretas kedamaian dan bela rasa sesama manusia yang selama ini telah terwujud di tengah-tengah kita.

Puasa tak sekedar urusan masing-masing pribadi untuk kembali pada masing-masing diri. Puasa dapat dijadikan sarana membela kemanusiaan global, seperti yang dilakukan Mahatma Ghandi pada 1924 untuk melawan Inggris dan menentang konflik Hindu – Islam kala itu. “Yang perlu pada saat ini bukanlah suatu agama, melainkan saling menghormati dan toleransi antar pemeluk berbagai agama,” tulisnya pada hari kedua puasanya. Gerakan aktif tanpa kekerasan ini bahkan mengilhami Nelson Mandela dan Luther King.

Jika puasa dimaknai tak sekedar menahan lapar, tetapi hingga komunikasi kedalam diri, maka seseorang dapat menahan diri untuk tidak mengonar bangsa sendiri dengan menyebarkan kebencian, intoleransi, fitnah, dan hoax. Karena pada dasarnya setiap batin yang murni tidak mengandung kejahatan.

Sebagai penutup, mari kita kembali ke bulan suci ramadan 74 tahun silam, tepatnya dini hari 17 Agustus 1945. Saat Soekarno, Hatta, Subardjo, Soekarni, dan Sayuti Melik berada di rumah Laksamana Tadashi Maeda. (Mohammad Hatta, Untuk Negeriku, 2011).

“Setelah duduk sebentar menceritakan hal-hal yang diperdebatkan Nishimura, Soekarno dan aku mengundurkan diri ke sebuah ruang tamu kecil bersama-sama dengan Subardjo, Soekarni, dan Sayuti Melik. Kami duduk sekitar meja dengan maksud untuk membuat sebuah teks ringkas tentang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tidak seorang di antara kami yang membawa dalam sakunya teks proklamasi yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945, yang sekarang disebut Piagam Jakarta,” tulis Hatta.

Dalam peristiwa tersebut, Soekarno berkata, “Aku persilakan Bung Hatta menyusun teks ringkas itu sebab bahasanya kuanggap yang terbaik. Sesudah itu kita persoalkan bersama-sama. Setelah kita memperoleh persetujuan, kita bawa ke muka sidang lengkap yang sudah hadir di ruang tengah.” Hatta menjawab, “Apabila aku mesti memikirkannya, lebih baik Bung menuliskan, aku mendiktekannya.” Soekarno yang mengakui bahwa kebahasaan Hatta adalah yang terbaik.

Kiranya setiap kita makan sahur dan mendengar azan subuh, sejenak kita bayangkan ada peristiwa besar terjadi, peristiwa berdirinya Republik Indonesia. Sehingga bulan suci tak hanya sebagai kemerdekaan batin dari godaan roh jahat tetapi juga kemerdekaan bangsa.

Yohanes Bara

Duta Damai BNPT