Workshop Bersama Budaya Membangun Paradigma Berbangsa

Duta Damai Yogyakarta

Workshop Bersama Budaya Membangun Paradigma Berbangsa

Duta Damai Yogyakarta berinisiatif untuk mengadakan workshop bertemakan “Bersama Budaya Membangun paradigma berbangsa” dalam upaya merespon beragam narasi dan aksi yang menyudutkan paradigma budaya dengan beragam kalimat propaganda yang akhir – akhir ini ramai dibicarakan di beragam media.

Sabtu, 23 April 2022 acara ini berhasil digelar dengan mengundang tiga narasumber dari beragam latar belakang yang relevan dan strategis untuk membahas isu budaya di Indonesia. Dalam rangka menyesuaikan tema yang diusung acara ini diadakan di Omah Budoyo Yogyakarta, lokasi yang dikenal sangat ikonik dengan kebudayaan dan kesenian di kalangan masyarakat lokal. Pukul 13. 30 WIB acara ini resmi dibuka oleh Joko Nuryanto S.H, M.Si mewakili kepala bagian Kesbangpol DIY ( Kesatuan Bangsa dan Politik ).

“ Pitutur luhur dan warisan leluhur dipakai oleh Pemerintah Daerah Yogyakarta untuk membentuk kinerja para ASN serta menjadi pembelajaran bagi generasi selanjutnya yang dapat diterapkan dalam menghadapi arus deras informasi hingga konten kontra – nasionalisme. Dengan berpegang teguh pada budaya dan menyuarakannya akan menjadi wujud bakti pada Negara,” ujarnya saat membuka acara workshop secara simbolis.

Tumpang tindih toleransi pada realita kehidupan berbangsa tetap terjadi walaupun berbagai upaya sudah direncanakan dan diupayakan, menciptakan suasana damai adalah bagian dari tanggung jawab generasi muda.

Sekitar 50 peserta yang mewakili berbagai komunitas, duta, forum keistimewaan hingga organisasi keagamaan begitu antusias mengikuti serangkaian acara workshop yang  mengusung tema baru bagi sebagian peserta.

Radikalisme dan Terorisme merupakan tema yang masih jarang dibahas di khalayak umum, rasa penasaran tersebut membuat para peserta begitu seksama menyimak rangkaian materi dari narasumber.

Kolonel Pas Drs. Sujatmiko selaku Kasubdit Propaganda BNPT menyampaikan strategi pentahelik atau multipihak dalam mewujudkan perdamaian di Indonesia. Beliau menyerukan ajakan untuk “Jangan mau terbawa arus Radikalisme dan Propaganda, Kita semua harus menjadi pribadi yang terdorong untuk mencintai sesama,” kepada peserta yang hadir.

Semua harus yakin dengan langkah pencegahan yang dilakukan, karna hubungan harmoni di Indonesia tidak boleh hancur hanya karna aksi intoleran. Maka dari itu, upaya Duta Damai Yogyakarta melalui pendekatan budaya harus terus didukung.

BACA JUGA: Youth Peace Ambassador Workshop 2022

Deradikalisasi Melalui Pendekatan Budaya

Kuda Lumping

Deradikalisasi melalui pendekatan budaya merupakan hal yang menarik untuk diperjuangkan. Tidak ada perdamaian Dunia tanpa adanya perdamaian agama, tidak ada perdamaian agama tanpa adanya keadilan.

ST. Sunardi yang memiliki latar belakang akademisi kajian ilmu budaya mengawali materinya dengan konsep perdamaian setelah mendengar langsung praktik terorisme dari Sosiolog Prancis beberapa tahun silam. Setiap orang berhak beragama, namun cara beragama yang kritis harus disertai sikap dewasa karna kedewasaan kita yang menentukan dan pada akhirnya kita juga yang harus tanggung jawab.

Dewasa ini Indonesia berkali – kali digemparkan oleh khutbah naif yang menjadi amunisi tidak sehat bagi masyarakat awam pada umumnya. Berawal dari motif muncul sebagai sosok yang religious agar disegani kemudian menebarkan faham – famam radikal sampai – sampai budaya menjadi salah satu nilai luhur yang ingin dilunturkan.

Pak Nardi mengakhiri sambutannya dengan beberapa nasehat untuk jangan sekedar menjadi buzzer dengan kepala kosong tapi harus dengan seni karna ciri utama seni adalah kejujuran. Indonesia sebagai Negara dermawan memiliki potensi membangun budaya perdamaian untuk membangun keadilan pada seluruh aspek sosial, ekonomi, agama hingga gender.  Maka sebagai Pemuda Yogyakarta, kita harus menyampaikan keadaan Jogja yang kita hidupi bukan sekedar repetisi buta.

Nilai budaya dan sejarah semakin mengakar ketika KH. Jadul Maula selaku Pengasuh Pondok Budaya Kaliopak menyampaikan konsep multikultur di bumi multietnis, pulau dan budaya sejak awal sejarah Indonesia.

BACA JUGA: Memahami Genealogi Perang

GudegSikap Pro-eksistensi terhadap anugrah keragaman di Indonesia adalah jawaban utama menyikapi perbedaan. Gudeg tanpa sambal dan lauk tidak akan menjadi legendaris, terkadang perbedaan justru menyempurnakan.

Kita melihat pakaian adat dari berbagai daerah yang tersusun dari beragam warna, filosofis dan bentuk merupakan bukti nyata bahwa konsep multikultur mewarnai pakaian, makanan hingga bangunan tradisi di Indonesia. Konon orang Belanda yang datang ke Indonesia justru merasa heran dengan persatuan yang terjalin ditengah perbedaan pada bangsa Indonesia hingga mereka berinisiatif untuk melakukan aksi yang memecah belah rakyat.

Menanggapi fenomena sesajen, kenduren hingga upacara adat kita juga perlu melihat esensi dalam praktik tersebut. Pada kenyataannya, tujuan tradisi tersebut masih dilestarikan karna di dalammnya ada do’a untuk leluhur, Negara bahkan para pemimpin negeri. Acara tersebut juga dilakukan secara sukarela tanpa ada biaya dari pihak tertentu dan memiliki unsur paseduluran terhadap sesama.

Maka dari itu apabila menemukan propaganda dalam tradisi jangan langsung beradu dalil tapi mulai dengan argumen. Faktanya budaya justru lebih merekatkan persaudaraan saat liberalisasi dan perpecahan hadir di Indonesia hingga memiliki dampak ampuh dalam membunuh benih terorisme jika dilakukan secara masif.

Usai penyampaian narasumber terakhir, acara dilanjutkan dengan istirahat kemudian penampilan tari bambangan cakil yang merupakan salah satu tari klasik yang ada di Jawa khususnya Jawa Tengah.Tari ini sebenarnya diadopsi dari salah satu adegan yang ada dalam pementasan Wayang Kulit yaitu adegan Perang Kembang.

Tari ini menceritakan perang antara kesatria melawan raksasa, Kesatria adalah tokoh yang bersifat halus dan lemah lembut, sedangkan Raksasa menggambarkan tokoh yang kasar dan beringas. Di dalam pementasan wayang Kulit, adegan perang kembang ini biasanya keluar tengah-tengah atau di Pathet Sanga.

Perang antara Kesatria (Bambangan) melawan raksasa ini sangat atraktif, dalam adegan ini juga bisa digunakan sebagai tempat penilaian seorang dalang dalam menggerakkan wayang. Makna yang terkandung dalam tarian ini adalah bahwa segala bentuk kejahatan dan keangkaramurkaan pasti kalah dengan kebaikan.

BACA JUGA:Pendidikan Pancasila: Jawaban Solutif dari Masa Lalu

Puncak Acara Workshop Bersama Budaya Membangun Paradigma Berbangsa

Workshop BudayaMenjelang buka puasa, para peserta kian antusias mengikuti rangkaian diskusi forum dengan sistem FGD ( Focus Group Discussion ) yang terbagi menjadi empat kelompok dengan konflik yang berbeda dari peristiwa viral menendang sesajen di semeru, penurunan baliho mahasiswi berhijab di Universitas Kristen Duta Wacana ( UKDW), larangan beribadah bagi biksu di tangerang dan pro – kontra pemotongan salib di makam Purbayan Kotagede. Dalam waktu yang terbatas setiap peserta bisa mempresentikan hasil analisa masalah secara detail hingga memberikan solusi terbaik untuk mengatasi tersebut.

Pada akhir acara para narasumber turut bangga melihat antusias dan kapasitas generasi muda dalam melihat konflik yang terjadi secara bijaksana. Kasubdit Propaganda BNPT juga menyampaikan dukungan agar pencegahan terorisme dengan pendekatan budaya yang melibatkan peran anak muda harus terus diselenggarakan. Kesuksesan acara yang diusung oleh Duta Damai Yogyakarta bisa menjadi contoh untuk regional lainnya.

Editor: Bennartho Denys

Share this post

Comment (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.